Khuntoria Scandal [part 1]

TITLE : KHUNTORIA SCANDAL

AUTHOR: retnoboo

GENRE: ROMANCE, ANGST, AU

RATING : ALERT/ NC-17

LENGTH : Chaptered

CAST:

Nichkhun 2pm

Victoria F(x)

Yang belum cukup umur, mohon jangan baca.. ^^

hoho

(padahal yang buat juga belum cukup umur..)

 

Author POV

 

“Nichkhun-shi.. bawakan koperku.” Victoria berteriak kearah nichkhun yg melenggang sendiri didepannya.

“ne yeobo.. habis ini kita kemana?” ucap nichkhun pada istri virtualnya itu.
“CUT.”

“bagus. Kita lanjutkan syuting kita jam 8 malam. Kita kerumah singgah Hallyu Daegu (ngarang ngidul) yang terkenal itu. Wah.. ini hebat sekali.” Ucap sutradara yang sedari tadi mengoceh terus tanpa henti membuat khun, vic dan seluruh kru hanya bisa mengangguk pasrah.

“hey. Jangan lemas seperti itu. Disana akan ada sebuah perayaan. Dan program WGM kita diundang. Tidak mungkin kita tidak datang. Sedangkan rumah singgah itu adalah salah satu sponsor program acara kita (ngarang juga).” Bentak sang sutradara yang lagi lagi membuat para kru hanya terdiam.

“dan kita akan makan-makan..” teriak sutradara dengan girangnya membuat para krunya terkejut.

“yang benar? Wah, ini asik sekali kalau begitu. Khun, vic, kalian harus ikut” ucap cameramen yang sedari tadi terus membopong kameranya.

“tentu kami akan ikut. Kami kan harus syuting.” Ucap khun yang kemudian melirik vic sambil tersenyum. Tak lama kemudian merek saling tertawa, saling memukul dan mencubit dengan cara yang intim. Tak ada bedanya antara mereka sedang syuting ataupun tidak syuting.

“baiklah kalau begitu. Kita berkumpul disana masing masing jam 8.” Ucap sutradara menyudahi perbincangan mereka didepan bandara International Incheon.

***

“hey apa semuanya sudah berkumpul?” Tanya khun yang baru sampai ditempat syuting.

“ya, semua sudah ada. Tinggal ‘istrimu’ saja yang belum datang.” Ucap astrada acara itu dengan sedikit kesal karena keterlambatan bintang acara itu. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, khun baru datang, sedangkan vic belum menunjukan batang hidungnya.

“kau tau, sebentar lagi perayaannya akan dimulai, bagaimana bisa kau syuting sendiri sedangkan vic sedang tidak ada. Untung sutradara sedang sibuk dengan orang-orang berdompet tebal itu. Jika tidak, tamatlah kita.” Ucap astrada itu sembari menggesek lehernya seolah-olah akan disembelih.

Tau jika astrada sedang marah, khun hanya bisa berdiam dan tak berniat untuk berbicara lebih lanjut. Untuk mengusir bosan dan tentunya mempercepat proses syuting, ia mulai membuka handphonenya dan mencari kontak bernama Victoria Song lalu mengetikan sebuah pesan.

Yeobo, kau dimana? Semua orang sedang menunggumu. Termasuk aku. 😀

Tak lama berselang sebuah pesan menggetarkan handphone khun.

Ne. aku sedang dalam perjalan kesana. Tunggu aku. Jangan syuting jika aku belum datang. Ara?

Khun hanya tersenyum membaca pesan singkat itu. Ia tau jika vic sangat susah mengatur jadwalnya. Makanya ia terlambat datang. Jika jadwalnya tak padat, ia pasti datang tepat waktu. Seperti saat-saat awal mereka melakukan syuting, sebelum f(x) menjadi salah satu girl group papan atas yang paling digandrungi. Keadaan berubah, namun vic tak pernah merubah sikapnya terhadap khun, hanya saja waktunya untuk bersama khun semakin berkurang. Sedangkan khun pun tak punya banyak waktu untuk bersama dengan vic. Kesibukannya bersama boyband 2pm yang terkenal itu tak memungkinkannya bertemu dengan vic setiap saat. Namun khun tak pernah menyia-nyiakan waktu saat mereka harus melaksanakan syuting. Ia selalu datang tepat waktu dan terkadang pulang berlama lama agar dapat memiliki waktu lebih lama bersama vic.

“ya! Khun! Dimana vic?” Tanya sang sutradara yang tiba-tiba telah berada dihadapannya.

“dia sedang dijalan hyung. Sebentar lagi dia da–”

“5 menit dia tak datang. Ku gantung kalian semua.” Kemudian sutradara itu pergi keposisinya. Ia bersiap dengan semua peralatan syutingnya, menuggu Victoria sampai 5 menit.

“aku datang oppa. Jangan marah-marah lagi.” Ujar vic yang telah datang dengan diantar mobil hitam yang diketahui sebagai mobil pribadi untuk mengantar anggota f(x) beraktifitas.

“bagus kau sudah datang vic. Aku hampir menyiapakan tali untuk menggantung mereka semua.” Kata-kata yang meluncur dari bibir sutradara membuat para kru beserta khun hanya bisa menelan ludah.

“kacja.. cepat kita mulai syuting.”

“ne..”

***

Vic POV

“nichkhun-shi, apa kau mabuk?” tanyaku pada pria yg tengah ambruk dipangkuannku ini.

Ia tak menjawab. Matanya tertutup. Sejak tadi ia tak bisa berhenti meminum arak yang tak pernah habis itu. Semuanya telah terkapar. Hanya tinggal aku dan 2 orang kru serta 2 orang pegawai rumah singgah ini saja yang masih bertahan. Syuting telah selesai, dan merekapun dengan leluasa berpesta tanpa memikirkan akan dilihat oleh masyarakat luas karena kami berpesta disalah satu kamar yang tertutup. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu membahasi rokku dan mengalir kepahaku yang memangku kepala khun.

“ya! Nichkhun-ah! Kenapa kau muntah dirokku. Aish.. jinja..? ottokhe?” aku berusaha mengangkat kepala khun dari pahaku. Ketika aku berhasil mengangkat kepalanya, tubuhnya malah terpental kembali dan ambruk diatas tubuhku.

Bau tubuhnya sangat menyengat. Bau arak itu tidak asing lagi bagiku.

“nichkhun-shi. Bangun. Ya! Nichkhun-shi..?” aku berusaha membangungkan khun dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun hasilnya nihil. Ia tidur mati.

Wajahnya yang seperti babi itu, sedang tertidur pulas dibahuku.

Tiba-tiba ada sesuatu yang bergetar didalam kantong celananya. Handphonenya.

Aku berusaha acuh. Namun aku tak bisa menahan rasa penasaranku untuk melihat siapa yang telah mengirim message kepada khun tengah malam begini.

Bermenit-menit aku menimbang nimbang. Handphone khun bergetar lagi.

Kali ini aku benar-benar tak sanggup menahan rasa penasaranku. Siapa? Kenapa? Ada apa? Pertanyaan itu berkecamuk dikepalaku.

Aku tak ingin jika khun menyembunyikan sesuatu dariku. Termasuk jika ia sudah mempunyai pacar. Karna itu sama saja seperti mengiris nadiku secara perlahan-lahan.

Kuberanikan untung mengambil handphone yang ia letakkan dikantong celananya. Ia tak bergerak sama sekali. Bagus.

Ku buka dan kubaca pesan itu.

From: Jun Ho babo

Ya! Hyung. Kau dimana? Kau tak kembali ke dorm? Ingat, lusa kita ada penampilan special  di inkigayo. Jangan sampai kau kenapa-kenapa sebelum besok lusa. Jaga dirimu baik-baik.

Aku tersenyum membaca pesan itu. Setidaknya, itu bukan dari seorang wanita.

Kukembalikan handphone itu kedalam kantong celananya, dan ia masih tak bergerak.

Sekali lagi aku berusaha untuk menyingkirkan tubuhnya. Aku sudah tak tahan dengan bau muntahan yang ada dirokku. Rasanya aku juga ingin muntah.

Kuangkat kepalanya. Dan kutidurkan ia dikursi yang sedari tadi kami duduki bersama. Bergegas aku kekamar mandi, membersihkan pakaianku dan mencuci muka untuk menghilangkan kantuk.

Namun rasanya sama saja. Bau muntahan itu tak sepenuhnya hilang, sama seperti kantukku yang tak kunjung reda.

Dug dug dug dug”

Ada yang menggedor pintu kamar mandi tempatku berdiam. Aku sedikit terkejut dan terlonjak.

“nuguseo?” tanyaku dengan sedikit ragu-ragu. Entah kenapa firasatku menjadi tidak enak. Apakah itu perampok? Atau jangan-jangan itu pembunuh?

Dug dug dug”

“ini aku yeobo.” Aku kenal suara itu. Itu suara khun. Tumben sekali dia memanggilku seperti itu saat kami sedang tidak syuting.

Tanpa basa basi, aku pun langsung membuka pintu kamar mandi dan ku lihat khun telah berdiri dihadapanku dengan gontai. Ia masih mabuk. Tapi ia terlihat sudah sadar.

“nichkhun-shi. Kau sudah bangun?” tanyaku sedikit canggung melihat ia tengah memandangiku dengan tatapan aneh.

Tak ada jawaban. Hening. Namun tatapannya tak berubah sama sekali. Tatapan itu, seperti tatapan orang yang sedang kesetanan.

“ya. Ni-.. nichkhun-shi. Ada apa denganmu?” Tanyaku lagi setelah ia semakin mendekat kearahku dan membuatku mundur beberapa langkah agar dia tak menabrakku.

Namun bukan jawaban yang diberikannya. Ia malah melumat bibirku dengan ganasnya. Aku bingung. Aku berusaha melawan dan berteriak. Tapi sial. Dia mencengkram tanganku dengan kuat. Dan tidak membiarkanku untuk berkata apapun dengan ciumannya.

“ya! Nichkhum-“ ucapku setengah berteriak tapi ditahan dengan ciuman khun.

Aku sudah tak dapat berbuat apa-apa. Ciumannya membuatku terdiam dan tak dapat menolaknya lagi. Kini aku mulai membalasnya. Meletakkan tanganku pada pangkal lehernya dan sesekali menjambak rambut pirangnya.

Tak lama kemudian, ia menghentikan aktivitas kami. Mau apa lagi dia? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Ia tak menciumku lagi. Tapi ia sedang berpikir. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sedetik kemudian, ia menggendongku, tak kalah terkejutnya dengan kejadian sebelumnya, ia membawaku menuju kamar yang tak terpakai itu. Karena semua orang hanya berkumpul diruang tengah.

“nichkhun-ah. Apa yang akan kau lakukan. Kau sudah gila? Turunkan aku!” perintahku kepada nichkhun yang tak menggubris kata-kataku sama sekali.

Ia menghempaskanku keranjang putih itu. Lalu berbalik untuk mengunci pintu.

“nichkhun-shi. Kumohon jangan seperti ini. Ini akan merusak segalanya. Sadarlah khun.” Ucapku pada khun yang semakin mendekat dan kini telah mendaki ranjang yang kutempati.

Ia tetap tak menggubrisku. Kini aku telah berada dipinggir ranjang, tak ada lagi tempat untuk melarikan diri. Ia telah mengunci setiap jengkal kesempatanku untuk berlari.

Ketika wajahnya mulai mendekat, secepat mungkin aku memalingkan muka sambil memejamkan mata. Namun dia tak bereaksi. Apakah dia tertidur?

Aku terkejut saat mulai membuka mata dan melihat khun sedang menangis. Ada apa lagi ini?

“waeyo?” ucapku panik.

“apakah kau mencintaiku Victoria-shi?” ucapnya lirih.

Hatiku seperti teriris. Belum pernah aku melihatnya berlinang air mata seperti ini.

Aku tak menjawab. Tak tahu jawaban apa yang harus ku berikan. Kontrak itu, tak akan membiarkan ku untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Dan jika aku melanggar kesepakatan kontrak kerja itu, tamatlah riwayatku.

“kenapa kau tak menjawab Victoria? Apa karna ada orang lain? Kau tak mencintaiku?” tanyanya lagi. Membuatku juga tak dapat tahan menahan air mata yang semakin tak terbendung oleh  keloapak mataku ini.

“bukan begitu nichkhun-shi. Hanya saja, karir kita tetap harus dipertahankan. Aku tidak ing-“

“katakana saja kau mencintaiku.” Ucapnya dengan tegas namun begitu lembut. Pancaran dari matanya sangat menenangkan. Membuatku tak ragu akan dirinya.

“saranghae nichkhun-shi.” Senyumnya mengembang setelah aku mengucapkan kata ajaib itu. Entah magis apa yang membuatku juga ikut tersenyum mendengarnya.

“itu sudah cukup.” Sedetik kemudian sia kembali melumat bibirku dan memelukku dengan erat.

Kali ini aku tidak menolak. Aku memang menginginkannya, walaupun seharusnya bukan sekarang.

Aku tak keberatan saat tangannya mulai menyusup masuk kedalam dress pendekku. Melepasnya, lalu mnghempaskannya kelantai. Ia pun tak mau kalah. Tubuh atletisnya terpampang jelas didepan mataku. Begitu indah, tak ada cacat sedikitpun.

“Victoria-shi. Sarangheo.” Ucapnya disela-sela ciuman kami.

Aku hanya tersenyum. Setidaknya saat ini aku tak mungkin bersedih.

Tubuh kami melekat. Tak terpisahkan.

Aku tak tau bagaimana kehidupanku besok, lusa, ataupun sedetik kemudian. Aku berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.

Semoga saja.

TBC-

Terima Kasih^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s