Sorry, I’m Pregnant [part 2]

TITLE : Sorry, I’m Pregnant

AUTHOR: retnoboo

GENRE: ROMANCE, ANGST, AU

RATING : PG-17/ T

LENGTH : Chaptered

CAST:

Choi Siwon Super Junior

Im Yoona SNSD

Choi Minho Shinee

Jung Krystal F(x)

 

2nd

 

 

Author POV

 

“ya! Appo.” krystal hanya bisa mengelus-ngelus kepalanya yang ditinju oleh yoona. Ia tahu konsekuensinya akan seperti ini. Yoona tak bisa menahan amarahnya. Ia terus saja meninju dan memukul krystal seperti pegulat professional.

“dimana otakmu huh? Kenapa kau bisa begitu bodoh. Aish.. jinja?” yoona membanting jas kerjanya yang hampir saja ia lempar kemuka krystal.

Suasana diantara mereka sedang memanas. krystal hanya memandang nanar kakak perempuannya yang sedari tadi melemparinya dengan semua benda yang dipegangnya.

Amarah yoona semakin memuncak ketika krystal memperlihatkan test pack dengan dua garis vertikal yang didapatnya dari minho. Entah dari mana minho bisa mendapatkan test pack palsu itu.

“aku tidak sengaja unnie. Ini juga bukan salah minho. Ini kecelakaan.” krystal mulai mendekati yoona lalu berusaha mengambil vas bunga yang dipegangnya. Takut kalau-kalau vas bunga itu melayang kearahnya.  Akan sangat sakit jika benda itu menghantam kepalanya.

Yoona mengerutkan dahi mendengar perkataan krystal, lalu tertawa sinis seperti merasa dibohongi.

“kau pikir aku bodoh. Tak ada satu manusiapun yang akan percaya dengan kata-kata kunomu itu. Tak bisa kah kau mencari alasan lain agar aku tak melemparmu kedalam kolam berisi racun tikus. Biar kau mati saja sekalian.” Krystal tersentak, ia terkejut dengan mendengar perkataan kakaknya. Sekali ini krystal mulai tak bisa menahan emosi. Rona ketakutan diwajahnya berubah menjadi tatapan sangar.

“Kau benar-benar ingin melemparku? Silahkan saja. Aku tak takut dengan ancamanmu itu. Janin ini lebih penting dari pada omonganmu yang tak bisa dijaga itu. Pantas saja semua pria meninggalkanmu, ternyata sifatmu tak lebih baik dari seorang anak tk. Kasihan sekali kau.” Sindiran krystal seketika membuat amarah yoona membeludak. Ia tak suka jika masalah pribadinya dibicarakan oleh orang lain. apalagi ia tak ingin dikasihani orang lain hanya karna masalah percintaannya yang selalu kandas secara tak mengenakan.

“bicara apa kau? Kau tak tau apa-apa. Jangan ikut campur masalah orang lain. urus saja dirimu sendiri.” Wajah yoona mulai memerah. Ia tahu bahwa kali ini ia akan kalah berdebat dengan adiknya. Selalu saja seperti ini jika krystal telah mengeluarkan kartu as yoona, membuat yoona hanya bisa bertingkah seperti orang bodoh.

“tepat seperti apa katamu. Urus saja dirimu sendiri. Aku dengan diriku, kau dengan dirimu sendiri. Kurasa itu bukan masalah. Mengingat ibu dan ayah tak pernah mempermasalahkan kehidupan kita. Jadi semua akan baik-baik saja.” sikap acuh krystal membuat yoona semakin merasa terpojok. Ia tak tahu kali ini harus berkata  apa pada adiknya yang keras kepala.

Tak ada 1 patah katapun yang keluar dari mulut  yoona ketika krystal mulai mengambil tasnya lalu berbalik meninggalkan yoona yang masih tak dapat berkata apa-apa.

“mau kemana kau?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut yoona yang terasa kaku.

“aku ingin pergi kedokter kandungan. Minho sudah menungguku diluar. Tenang, aku tak akan pulang larut malam. Jika kau ingin makan, didapur sudah ada beberapa makanan yang kusiapkan. Makanlah. Dan jangan menungguku, karna aku tak suka jika ada orang yang bersusah payah hanya untuk memikirkan kepulanganku. Arra?” krystal mulai melangkah mendekati pintu rumah. Membukanya, lalu menutupnya kembali tanpa suara.

Yoona tak bisa menjawab. Bibirnya terkunci. Ia hanya memandangi kepergian krystal dengan matanya yang mulai sayu. Ia lelah. Sudah seharian ia perang mulut dengan adiknya itu.

“aku akan tetap menunggumu krystal.” Ia berguman dalam hati. Tak tau apa yang ia rasakan. Ia hanya ingin adiknya tetap berada disisinya, bersamanya.

Krystal POV

Kakiku terasa berat melangkah meninggalkan apartement tempatku dan kakakku tinggal.

Tidak, sekarang hanya kakakku saja yang akan tinggal disana. Selanjutnya aku akan pindah apartement demi menyembunyikan kebohongan yang selama ini sudah kami rencanakan.

“apa kita benar-benar perlu kedokter kandungan?” seketika aku memicingkan mata kearah minho yang berada disebelahku. Apa sih yang sedang dipikirkan si tolol ini? Memangnya aku hamil betulan apa? Bodoh.

Kulempar tas ku yang berisi pakain itu tepat kearah wajahnya. Sial. Dia berhasil menangkapnya, padahal tangannya sedang digunakannya untuk menyetir.

“apartement yang mana?”

“ne? apa?” ia tak mengerti dengan maksud pertanyaanku.

“aku akan tinggal diapartement yang mana?” aku tak mau basa basi berbicara dengannya. Terlalu membosankan jika harus berbicara dengan orang yang tak sepemikiran denganku.

“oh.. tidak jauh dari sekolah kita. Hanya saja apartment itu tak lebih besar dari apartementmu yang sebelumnya.” Bagus. Karna aku tak suka tempat yang luas. Ini mungkin akan menyenangkan.

“aku akan mengirimimu uang setiap bulannya. Tapi tentu saja jumlahnya tak besar.” Uang? Untuk apa? Ia berbicara seolah-olah telah memiliki tanggungan hidup atasku.

“kau sepertinya benar-benar ingin menjadi suamiku?” aku menatapnya curiga. Ia tampak kikuk mendengar pertanyaanku. Bisa kulihat dari cara ia menggenggam setir mobil dengan kekuatan ekstra.

Aku hanya bisa tertawa melihat reaksinya. Polos sekali dia.

“jangan tertawa. Itu tidak lucu.” ia mulai menyipitkan mata kearahku. Dan dengan jahilnya kusipitkan juga mataku lalu mendekat kearahnya. Hanya tinggal beberapa centimeter lagi, maka bibir kami akan bertemu.

“ya! Apa-apaan kau.” Secara spontan ia memundurkan wajahnya. Membuatku semakin tak tahan untuk memamerkan senyum evilku. aku suka sekali sikap polosnya.

Tapi tiba-tiba aku kembali teringat akan kakakku. Pantulan cahaya dari luar jendela membuatku dapat melihat sosokku yang samar-samar menyerupai paras kakakku. Aku memandangi bayangan itu beberapa saat, bayangan itu tetap tak berubah. Hanya matanya saja yang tetap mengawasiku.

Aku kembali terdiam. Apakah aku bisa hidup tanpa dia?

Tidak, aku salah. Apakah dia bisa hidup tanpaku? Mengingat semua kebutuhan dan tanggung jawab selalu diserahkan kepadaku. Bukannya aku ingin membanggakan diri. Tapi memang seperti itulah dia. terkadang aku berfikir, kenapa tak aku saja yang menjadi kakaknya? Ia memang bekerja dan memberiku uang, tetapi semua urusan rumah dan sebagainya selalu ia serahkan padaku. Terlebih disaat ia sedang membicarakan tentang asmaranya, aku selalu menjadi pendengar baik dan memberikan semangat dan motivasi untuknya. Aku tak tahu apa jadinya dia bila aku sudah kembali nanti?

“ya! Kau kenapa lagi?” aku mendengar kekhawatiran minho, tapi aku tak bisa menjawab. Karna sekarang aku sedang berpikir. Dan tak ingin diganggu.

“apakah aku harus benar-benar pindah?” aku bertanya untuk meyakinkan. Takut kalau-kalau nanti setelah aku tak ada, kakakku malah diberitakan meninggal meminum racun tikus karna tak tahan hidup sendiri. Aku tak bisa membiarkan hal konyol itu terjadi.

“kerocjo. Apa kau mau unniemu mengetahui masalah kita dengan mafia-mafia itu? Dia hanya akan semakin marah padamu jika ia tahu kita dituduh sebagai pencuri berlian seharga 3 trilliun.” Aku menimbang kembali ucapan minho. Mungkin ada benarnya.

“tapi ia akan hidup dengan siapa kalau tak ada aku?” aku kembali menerawang menghadap kejendela. Mencari-cari bayangan kakakku yang mungkin terpantul kembali dari otakku.

“tenang. Dia akan baik-baik saja. Hyungku akan berusaha untuk mendekatinya dan menjaganya. Kita hanya tinggal menunggu masalah ini selesai. Setelah itu, semua akan kembali normal.” Perkataannya itu seperti membawa semangat baru untukku. Aku memang ingin semunya kembali seperti semula. Tak ada polisi, tak ada mafia, dan tak ada berlian keparat itu.

“gomawo.” Aku menyunggingkan senyum simpul padanya. Ia berbalik dan membalas senyumku. Setidaknya, aku merasa sedikit lega sekarang.

“normal.” Aku bergumam dalam hati.

Aku akan menunggu semuanya kembali normal. Tunggu aku unnie.

Siwon POV

Flashback-

“berapa yang akan kami dapatkan jika kami melakukan pekerjaan ini?”

“10 juta won.” Aku sudah memegang pulpen. Tinggal kutandatangani saja cek kosong dihadapanku ini.

“baiklah. Kami hanya perlu memarkir mobil didepan jalan dan adikmu akan menabraknya. Setelah itu kami hanya harus berpura-pura dan berrteriak-teriak didepan mereka bukan?” sepertinya mereka belum paham dengan semua ucapanku. Ku buka laci brankas rahasia dikantorku dan mengeluarkan suatu kotak yang membuat para preman kampung itu memicingkan mata.

“ini akan menjadi asal muasal masalahnya.” Aku membuka kotak itu. dan para preman itu hanya mengangguk mengerti.

“apakah itu bernilai mahal?” aku hanya tersenyum ketir.

“jika masing-masing kepala kalian itu senilai 50 juta won. Maka berlian ini lebih dari harga kepala kalian berdelapan dijadikan satu. Ara?” tampak salah satu preman itu keberatan dengan perumpamaanku. Namun ia tak berani untuk mengutarakannya. Bagus, berarti ia masih ingin hidup.

“ya! Kenapa bayaran kami lebih kecil dibanding harga berlian itu? itu tak adil?” oh, aku salah. Ternyata masih ada juga yang tak ingin hidupnya terus berlanjut.

“kau tak suka? Kau tak mau melanjutkannya? Silahkan saja. Tapi setelah keluar dari ruangan ini, jangan harap kau bisa menghirup udara lagi. Orang nista.” Kalimat terakhir itu memang sengaja kupertegas. Hanya berniat untuk meluruskan, bahwa nyawa preman itu tak lebih berharga dari pada berlian yang saat ini sedang kugenggam.

“ya! Apa kau bilang?” ia mulai maju kearah meja kerjaku. Tapi tak sampai menyentuh karpet arabianku yang sangat mahal, ia mundur. Bukan karena keinginannya. Tapi karena kawanannya menariknya secara paksa agar tak berbuat macam-macam padaku. Hah, berarti hanya dia yang menjadi orang baru. Tak berguna.

Aku berdiri lalu menatap mereka satu persatu.

“kutegaskan sekali lagi. Jika kalian masih ingin hidup, lakukan perintahku. Dan jika kalian mengerjakan tugasku dengan baik, aku akan memberikan kalian bonus. Tapi jika kalian melenceng, aku tak akan segan-segan mengirim pulang potongan kepala kalian pada keluarga kalian. Ara?” aku berbicara sedater mungkin. Aku hanya tak ingin pembicaraan kami terdengar oleh pegawai kantor yang berada diluar ruanganku. Itu hanya akan membuat semua rencanaku menjadi gagal.

Tanpa banyak omong, aku langsung menanda tangani cek kosong yang sedari tadi tergeletak dimejaku. Ku berikan pada pada salah satu dari mereka yang secara tak langsung sudah kutunjuk untuk menjadi ketua kawanan mereka.

“arasminda. Kami akan mengerjakan tugas kami. Kau tenang saja.” preman itu berbicara dengan nada rendah. Ia sudah mengenalku. Sedangkan yang lainnya hanya menunduk.

“hari ini, jam 2.30 pm. Lakukan pekerjaan kalian dengan benar. Sekarang kalian boleh kaluar.” Aku mulai berjalan menuju kearah pintu lalu membukanya. Mempersilahkan ‘tamu spesialku’ untuk segera meninggalkan ruangan kerja yang sebentar lagi akan ku pakai untuk melakukan meeting dengan pegawai-pegawaiku.

Kawanan itu sudah meninggalkan ruanganku. Dan sebentar lagi akan banyak pegawai berkumpul disini. Kukembalikan berlian yang sedari tadi kupegang kedalam kotak dan menyimpannya kembali kedalam brankas rahasia.

Aku duduk dikursiku. Berusaha untuk merilekskan pikiranku. Saat ini dipikiranku hanya ada dia.

Wanita yang selalu kulihat setiap hari dikantor ini. Wanita yang dari dulu telah kusukai. Dan wanita yang sekarang akan kusulap menjadi tergila-gila padaku. Tinggal kau tunggu saja, Im Yoon A.

Flashback end-

Yoona POV

“nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi. Silahkan coba beberapa saat lagi.” Apa-apaan ini? 1000 kali aku berusaha menelponnya, tetap saja si ‘veronica’ ini yang menjawab. Apa yang sedang ia lakukan?

“aish, jinja? Kemana dia? kenapa belum pulang juga?” aku kembali memencet-mencet tombol handphoneku. Mencari kontak bernama krystal yang sedari tadi tak bisa dihubungi.

“nomor yang anda tuju !@#$%^&*&^%$#@!@$^#%*&*#$#@$%&.”

“ya! Mati saja kau! Aku tak mau bicara denganmu.” Kubanting handphoneku ketengah sofa.

Aku ngos-ngosan. Bukan karena sehabis berolah raga, tapi karena menahan emosi yang tak bisa kulampiaskan. Dadaku jadi sesak.

Aku hanya mondar-mandir didepan pintu rumah menunggu krystal pulang. Ini sudah jam berapa? Kenapa dia belum pulang-pulang juga? Dimana dia? Setidaknya dia harus memberikan kabar padaku, jadi tidak membuatku kelabakan seperti ini. Aish, jinja?

Aku melirik jam. Dan kulihat jam telah menunjukan pukul 23.00 am.

Ottokhe? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?

Ting.. aku baru ingat ucapan krystal tadi siang. Ia pergi bersama minho. Dan artinya, sekarang dia masih bersama minho. Aku harus cepat. Aku bergegas mengambil handphoneku dan mencari kontak bernama minho. Ini dia.

“tuuutt..” berhasil. Tersambung.

“tuuutt.. yeoboseo?” suara disebrang sana terdengar lemah. Apa dia sedang tidur?

Aku menimbang-nimbang sejenak. Apakah sebaiknya kututup saja. Ah tidak, krystal belum pulang, aku harus tetap berusaha mencarinya.

“yeoboseo? Nugu?” astaga, aku lupa untuk menjawab.

“ah, ne.. apakah ini minho-shi?” kubuat nada bicaraku selembut mungkin, agar dia tak langsung cepat-cepat memutus panggilanku. Aku tak mau kehilangan satu-satunya sambungan yang bisa memberikanku informasi. Bisa rugi aku. Pulsaku habis, tapi adikku tetap saja berkeliaran seperti gelandangan diluar sana.

“ne.. ini aku. Nuguseo?” sepertinya ia tak ingin berlama-lama. Bisa kutebak dari ucapannya yang meluncur secepat kilat seperti kereta api. sebaiknya aku langsung sja.

“ah, aku-“

“ya! Minho-ah, pelan-pelan sedikit. Kau kira itu tidak sakit.” Tiba-tiba suara teriakan seorang perempuan memotong pembicaraanku. Dan aku kenal suara itu. itu suara krystal. Oh, ternyata..

“ya! Aku sudah pelan-pelan. Kau saja yang terlalu lemah.” Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa harus berteriak-teriak seperti itu? kenapa dia kesakitan? Oh tidak. Apakah mereka sedang..?

“aahhh.. minho-ah.. sakit sekali.” Teriakan itu membuat bulu kudukku merinding. Aku tak sanggup lagi mendengarnya.

“YA! DIMANA KALIAN BERDUA! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!” nada suaraku naik menjadi 7 oktaf. Aku tak habis pikir apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Aku tak mau membayangkannya.

“jika kalian melakukan hal yang tidak-tidak. Tamatlah riwayat kalian. Ara?” tak ada jawaban dari mereka. Namun tiba-tiba sambungan telepon terputus. Hah, berani sekali mereka. Awas saja kalau kudapat kalian berdua. Tak akan kuberi ampun.

Secepat kilat kusambar jacket yang tergantung dikamarku. Mengambil kunci mobil, lalu bergegas menuju kerumah minho.

Kutinjak pedal gas mobilku dalam-dalam. Tak tau sudah sampai batas berapa kecepatanku. Aku tak peduli. Yang kupikirkan hanya menyeret adikku dan membawanya kembali pulang kerumah.

“Akan kucari kau jung krystal. Jangan coba-coba lari dariku.”

TBC

Terima Kasih ^^

Iklan

6 comments on “Sorry, I’m Pregnant [part 2]

    • mian sebelumnya..
      gak tau kapan bakal publish kelanjutannya.. karna berbagai alasan mendera..dan aku lagi kosong ide..
      tapi diusahain kok.. hehe..
      makasih udah baca & koment.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s