Sorry, I’m Pregnant [part 1]

TITLE : Sorry, I’m Pregnant
AUTHOR: retnoboo
GENRE: ROMANCE, ANGST, AU
RATING : PG-17/ T
LENGTH : Chaptered
CAST:
Choi Siwon Super Junior
Im Yoona SNSD
Choi Minho Shinee
Jung Krystal f(x)

This is my fanfiction. Kalau ada yang ngaku-ngaku ini fanfic orang lain. silahkan mention saya di Retno04aha

Hidup, tak selalu berjalan mulus.

Ketika kita menemukan rintangan, akan dengan seribu upaya kita menghadapinya. Namun jika rintangan itu datang dari orang yang kamu sayang, apakah kamu akan tetap berusaha untuk melawannya?

Aku rasa jawabannya tidak.

Yoona POV

“sebentar lagi aku sampai. Jangan pergi kemana-mana sebelum aku pulang. Ara?” kumatikan sambungan telepon. Lalu melempar handphoneku ke jok samping agar tak menggangguku yang sekarang ini sedang menyetir.

Aku masih tak percaya apa yang dikatakan oleh adikku. Tidak mungkin ia nekad melakukan hal menjijikan yang jika kubayangkan saja dapat membuatku muntah 100 kali. Ia orang terpelajar, bagaimana bisa ia melakukan tindakan bodoh seperti itu.

“keparat kau Minho. Kau harus membayar semua perbuatanmu pada adikku.” Kupukul setir mobilku untuk melampiaskan amarahku yang sedang membeludak.

Flashback-

“unnie, aku hamil.” ucapan adikku seperti petir yang secara tak sengaja ‘menggelitik’ gendang telingaku.

“krystal, jebal, jangan bercanda. Kau ini senang sekali membuatku hampir mati mendadak saat menyetir. Sudah ya, nanti saja bicaranya. Disini sedang ramai kendaraan. Kau tak mau kan unniemu yang cantik ini mati konyol ditengah jalan raya.” Suaraku bergetar karena menahan tawa akibat leluconku yang sama sekali tak lucu. Aku hanya ingin menghibur diri dari kepenatan jalan raya, karena tak ada satupun orang yang bisa kuajak bicara sejak 4 jam yang lalu. Membuatku merasa mulai pusing.

Tapi sepertinya leluconku memang tak pernah berhasil. Dan kali ini sama sekali tak berguna.

“aku tak bercanda.” Ucapnya singkat.

Seketika aku terdiam. Otakku sedang dalam masa mencerna arti dan maksud dari kalimat terakhir yang diucapkannya.

“jinja? Cukhaeo. Wah, aku akan menjadi ahjuma kalau begitu. Anakmu laki-laki atau perempuan?” aku rasa pengendara motor yang berada disebelahku mendengar ucapanku, kulihat ia berbalik dan menatap kearahku. Dan tentu saja ia mendengarnya, karena aku berteriak dengan kelengkingan suara 7 oktaf.

Merasa risih. Aku pun menaikan kaca mobilku agar pembicaraan kami dapat dilanjutkan tanpa ‘dikupingi’ orang lain.

“apa maksudmu? Aku belum melahirkan. Aku masih mengandung.” Ia sepertinya bingung dengan ucapanku. Sebenarnya aku pun tak mengerti mengapa aku dapat berbicara seperti itu. Hanya saja aku tak tau harus berkata apa. Aku tak percaya dengan ucapannya.

“hahaha. Sudahlah krystal. Nanti saja kita bicara. Aku sedang tak mempunyai selera humor yang tinggi saat ini.” Ucapanku berubah datar. Aku sudah tak bisa mengerti kemana arah pembicaraan kami.

“ya! Unnie, ku perjelas sekali lagi. Aku sedang tidak bercanda atau apalah sebagainya. Aku juga tak menepis ucapanmu bahwa sebentar lagi kau akan menjadi ahjuma. Karna memang itu kenyataannya. Aku hanya ingin meminta izinmu untuk pergi kedokter kandungan. Dan jika kau tak keberatan, aku mengambil 20 ribu won didalam loker brankasmu yang penuh dengan emas itu untuk biayaku nanti. Jika kau sudah sampai dirumah, cepat makan. Aku sudah menyiapkan jjangmyeon dan kimchi kesukaanmu.” Ia berbicara panjang lebar. Dan aku hanya mendengarkan.

Entah sudah berapa lama aku berdiam diri mencerna perkataannya yang seperti bahasa alien itu. Aku tak paham? Ia spertinya tak bercanda. Lalu kenapa ia berbicara seperti itu. Tunggu..

Hamil? Maksudnya,punya bayi? Tapi bagaimana bisa? Pacaran saja ia baru sekali?

Ting. Lampu diotakku menyala. Aku mengerti maksudnya sekarang.

Tapi ternyata pengertianku itu hanya membuatku merasa bertambah pusing.
“berapa bulan?” tanyaku kaku. Aku tak berani mengeluarkan kata-kata yang lebih vulgar lagi. Misalnya “sudah berapa bulan kau mengandung janin dari hasil pacaranmu yang baru berjalan 3 bulan itu?”

Aku tak bisa berkata seperti itu pada adikku sendiri.

“apa..? oh, sudah 2 bulan. Tak tau rinciannya sepeti apa. Yang jelas sudah 2 bulan aku tak datang bulan.” Santai sekali dia. Ataukah hanya aku saja yang terlalu menganggap masalah ini seperti malapetaka?

Tidak. Ini memang malapetaka.

“dengan kekasihmu?” suaraku tercekat. Aku tak bisa bekata lebih lanjut.

“maksudmu minho? Ne, dengannya. Memangnya dengan siapa lagi?” aku terdiam. Aku sedang berpikir keras. Sebenarnya malapetaka ini salah siapa? Adikku? Minho? Ataukah salahku yang tak becus menjaga adikku sendiri?

“ya! Unnie. Apa kau masih mendengarku? Aku akan pergi kedokter kandungan sekarang. Aku ta-“

“sebentar lagi aku sampai. Jangan pergi kemana-mana sebelum aku pulang. Ara?” potongku lalu dengan sigap melempar handphoneku dan menginjak gas sekuat-kuatnya agar aku segera sampai kerumah.

Flashback end-

Krystal POV

“ya! Minho-ah, rencana kita berhasil.” Ucapku sambil cekikikan karena mendengar kepanikkan kakakku yang terlalu berlebihan. Kini aku sedang asyik bertelpon-telpon ria dengan minho. Namja chingu palsuku.

“jinja? Bagus. Kalau begitu kita tinggal tunggu perintah dari hyungku saja. Setelah itu bereslah semua masalah kita.” Kini bukan hanya aku yang tertawa. Suara diseberang sana juga sedang tertawa sama kerasnya karena keberhasilan rencana kami.

“ne. kita tak perlu cape-cape lagi mengurusi tukang palak bengis itu. Sebentar lagi hyungmu akan membayar hutang-hutang kita kan?” aku hanya ingin memastikan, bahwa perjanjian ajaib kami tidak dilupakan.

“tentu. Sampai unniemu mau menerima cinta hyungku. Hutang kita lunas.” Ucapan itu melegakan.

Setidaknya aku tak perlu mencuri untuk mendapatkan uang. Bukannya aku gembel. Tapi aku hanya tak ingin kakakku mengomeliku panjang lebar hanya untuk masalah yang menimpaku beberapa waktu lalu.

Masalah yang seharusnya bisa teratasi dengan mudah. Masalah yang asal muasalnya bukan karena kesalahanku. Dan masalah yang dalam sekejap bisa membuatku masuk kedalam bui.

Flashback-

Panas sekali hari ini. Matahari sepertinya sedang bersemangat mengumbar cahaya apinya. Dan ‘beruntungnya’ aku berteduh dipohon tua yang sudah tak mempunyai daun sama sekali. Membuat kulitku yang sudah coklat semakin coklat saja.

Sudah jam 2 siang. Tapi kakakku belum juga menjemputku.

Selalu seperti ini jika dia sedang lupa waktu untuk mengobrol santai dengan teman-temannya. 5 menit lagi mobilnya tak menangkring dihadapanku, awas saja dia.

“ya! Kau ikut aku saja.” Spontan aku berbalik melihat seseorang yang datang dengan mengendarai motor besar ala valentino rossi.

“pulang saja sana. Aku tak mau naik motor berisikmu itu.” Aku hanya memutar bola mata. Tak tahan melihat kelakukannya yang tukang pamer.

“jinja? Kudengar kantor kakakmu sedang mengadakan rapat seluruh pegawai dan mereka akan kerja lembur. Kau tetap akan menuggu kakakmu disini?” aku memalingkan muka. Melihat suatu yang jangal pada ekspresinya.

Ia selalu saja membuatku terusik. Hal sekecil semutpun tak pernah berhenti ia perdebatkan denganku.

“ya! Minho-ah. Kau tau dari mana?” kini aku telah berkacak pinggang. Menanti jawaban konyol yang selalu ia lontarkan.

Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Aku mengerti bagaimana sifatnya.

Keluarga kami bertetangga. Tetapnya berdempetan. Karna dulu kami tinggal diapatement yang bersebelahan.

“kau lupa? Hyungku juga bekerja diperusahaan yang sama dengan unniemu.” Senyumnya mengembang. Pertanda ia sedang tak berbohong.

“kalau begitu aku jalan kaki saja.” Aku memulai melangkah meninggalkan minho yang mulai menyalakan motornya. Aku tahu ia akan segera menyusulku.

“ya! Kau ikut aku saja. Kudengar rumahmu jauh. Lagi pula-“

“berikan aku uang.” Aku menyodorkan tanganku seperti pengemis yang sedang meminta-minta. Ia tak menjawab, hanya memandangi tanganku.

“berikan aku uang!” ulangku lagi dengan suara yang lebih tinggi.

“eh? Apa? Uang? Untuk apa?” Tanyanya terkejut. Sepertinya ia melamun. Tapi biarkan sajalah, bukan urusanku.

“aku mau naik bus.” Ia diam, lalu mengernyitkan dahi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku tak tahu pasti.

“aku tak punya uang.” Ia menggelengkan kepala, mengangkat tangannya seperti tak bisa memberiku apa-apa. Sungguh tipuan yang gagal.

“Berani bohong rupanya. Baiklah. Jika kudapat uangmu, tak akan kukembalikan sepeserpun.” Aku mulai menarik tas sekolahnya dan berusaha membuka resleting pengaitnya. Ia meronta-ronta, berusaha agar aku tak bisa membuka tasnya yang sudah separuh ku tarik.

“andwe. Andwe. Baiklah. Aku punya uang. Tapi aku sedang memerlukan uang itu.” Ia memohon padaku. Tatapan manjanya begitu menjijikkan, ingin sekali aku muntah diwajah bersih nan mulusnya itu. Seperti ‘banci’ saja.

“sepertinya hyungmu sama pelitnya seperti unnieku.” Ku tepuk-tepuk bahunya dan mulai melangkah lagi menjauhinya. Ia tetap saja membuntutiku.

“hey. Ayolah krystal. Aku hanya ingin mengantarmu. Tak senangkah kau diantar olehku yang tampan ini?” isi perutku benar-benar ingin keluar sekarang.

“kau punya kantong plastik.”

“untuk apa?” ia masih tak mengerti.

“aku ingin muntah. Setelah itu membuang kantong plastik itu tepat diwajah hancurmu.” Ia tertawa terbahak-bahak. Kupikir itu makian. Ternyata baginya itu lelucon. Bagus sekali.

“kau ini tak pernah berubah krystal-ah.” Ia mencubit pipiku. Kutepis tangannya menjauhi wajahku. Lalu menonjol kepalanya dengan kekuatan ekstra.

“jangan sembarangan memegang wajahku. Tanganmu kotor.” Ku sapu pipiku yang tadi dicubitnya. Sakit juga ternyata.

“mianhe. Aku hanya senang sekali dengan sikapmu itu. Menggemaskan.” Ia memasang senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipinya. Nah kan, benar apa kataku. Dia ‘banci’.

Aku melirik jam ditanganku. Astaga, sudah jam 2.30. setengah jam lagi aku harus latihan beladiri. Ottokhe??

Aku menggigit bibir kecil. Berusaha mencari akal.

Dan aku melihat ‘banci’ didepan mataku masih tersenyum lebar. Aku sadar aku masih punya harapan. Mau tak mau, harus tak harus. Tinggal dia saja yang bisa kuandalkan.

“mau mengantarku tidak?” pertanyaanku membuatnya terkejut. Sekejap, ia melotot kearahku. Dan sedetik kemudian ia mengerutkan dahi.

“mau tidak?” tanyaku lagi. Aku balas melototinya.

“de? Ne.. tentu aku mau. Kan aku yang mengajakmu duluan.” Aku hanya memutarkan bola mata. Ternyata ia gampang sekali dimanfaatkan.

“boleh naik sekarang tidak?” aku berusaha melembutkan suaraku, agar ia tak kabur meninggalkanku yang sekarang sedang sangat membutuhkan tumpangan.

“tentu. Kacjja.” Senyum lebarnya itu mengembang lagi, dan kali ini benar-benar senyuman ‘banci’. Sepertinya ia senang sekali tersenyum.

Aku mulai menaiki motornya yang terlalu tinggi untuk dinaiki seorang wanita. Tapi tidak termasuk aku, karena aku sudah terbiasa menaiki motor seperti ini. Dirumah aku punya satu.

“pegangan yang erat krystal-ah.” Ia menarik gas motornya dalam-dalam. Membuatku hampir saja terpental kebelakang.

“YA! Kau ingin membunuhku!” ia hanya tertawa dan kemudian menambah kecepatan motornya menjadi 120km/jam. Sinting sekali ‘banci’ ini.

Sepanjang perjalanan, aku hanya berdiam. Merasakan sejuknya angin yang ‘menabrak’ wajahku yang sedang kepanasan ini.

“rumahmu dimana krystal-ah?” ia mulai membuka pembicaraan. Sejenak aku menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaannya.

“masih diapartement yang dulu.”

“jinja? Wah, lama sekali kau tinggal disana. Apakah tetangga disebelah rumahmu masih sama semua?” aku hanya menghela nafas. Ingin rasanya kusumpal mulut berisiknya itu dengan sepatu kotorku yang tertinjak permen karet. Tak dikelas, dikantin, dijalan , dimanapun mulutnya tak pernah berhenti mengoceh.

Masih kuingat saat pertama kali aku masuk sekolah. Orang yang pertama kali menegurku adalah dia. dan setelah itu, dia terus-terusan menegurku seperti orang sinting.

“tidak tahu. Aku tak pernah bertemu dengan tetanggaku.” Ia kembali tertawa. Aku mulai menyadari bahwa suara tawanya itu seperti tokoh animasi yang berwana kuning. Jelek sekali.

“berarti hanya keluargaku saja yang kau kenal sebagai tetanggamu. Benarkah?”

“tidak tahu. Nama keluargamu saja aku tidak ingat.”

“tapi kau mengingat namaku krystal-ah.” Ia menarik tanganku melingkari perutnya. Apa-apaan ini? ‘banci’ ini berani kurang ajar juga rupanya.

Segera kutarik tanganku dan dengan sekali pukulan, helm yang dipakainya sudah mulai retak.

Plak.!

“ya! Appo. Kenapa kau memukulku?” Ia mengusap-usap helmnya. Tapi tentu saja bukan kepalanya yang sakit. Aku malah kasihan pada helm tak berdosa yang dipakainya itu.

“jangan coba-coba menyentuhku.”

“ah, ne.. yeobo.” Ia tertawa cekikikan.

Yeobo? Apa aku tak salah dengar? Atau memang mulutnya ingin ditampar.

Aku memukul-mukul kepalaku sejenak. Sepertinya aku butuh alat bantu pendengaran.

“kau kenapa yeobo?” aku diam memikirkan perkataannya. Mengeja setiap huruf yang dia ucapkan. Y-e-o-b-o.

Ohh.. ternyata dia memang ingin ditampar rupanya.

Dan sepertinya jika kutampar mulutnya, dia akan diam.

Tidak, jangan mulutnya. Bisa-bisa dia semakin pintar mengoceh setelah kutampar.

Kutendang saja kakinya sampai titik puncak tenagaku. Biar tau rasa dia.
Tapi ternyata kakinya mentul. Tak dapat kembali pada posisi awal karena badannya telah mereng kearah berlawanan.

“ya! Ya! Ya! Aku tak bisa menyeimbangkannya..”

BRAAKK..

=====================================================================================

“yaaa!!”

“appo.!” Aku merasakan semua bagian tubuhku sakit karena membentur aspal.

Kami terjatuh. Lebih tepatnya menabrak sesuatu sebelum terjatuh.

Kulihat disekelilingku. Hanya ada minho yang terpental sejauh 2 meter dari tempatku berada. Sedangkan didepanku ada sebuah mobil yang bagian belakangnya telah penyok. Sepertinya itu karena ulah kami.

“motorku.. ottokhe?” bingo. Ternyata dia masih sama tololnya seperti sebelumnya. Kenapa tak sekalian sekarat ditempat saja dia.

“ya! Kau ingin motor busukmu yang mati atau kau sendiri yang mati. Bodoh.” Seketika itu juga aku langsung berusaha berdiri. Merasakan setiap bagian tubuhku yang terasa nyeri. Kakiku.

Minho masih saja berduduk ria ditengah jalan sambil menatap motornya yang sudah terbagi menjadi dua bagian. Entah kemana stang motornya sampai-sampai tinggal rangka belakangnya saja.

2.50 pm. Tamatlah riwayatku.

Aku tak bisa ikut latihan beladiri. Dan semua ini gara-gara banci tak punya otak yang masih saja memasang wajah idiotnya. Sekarang aku harus bagaimana?

“ini semua gara-gara kau. Aish, jinja. Menyesal sekali aku ikut denganmu.” Umpatku lalu menendang ‘bangkai’ motornya yang sudah tak berbentuk.
Auww.. aku lupa kalau kakiku masih sakit.

Kupegang pergelangan kakiku dan berusaha untuk mengurutnya perlahan. Kakiku rasanya bertambah nyeri.

“ya! Ini juga salahmu. Jika kau tak menendang kakiku. Kita tidak akan jatuh seperti ini.” Ia mulai menyolot. Cari mati rupanya dia. baiklah, ku ladeni.

Aku mulai melangkah mendekatinya dengan tatapan semematikan mungkin. Sudah kepalang tanggung. Amarahku tak bisa dibendung lagi.

Walaupun kakiku tak bisa berjalan normal, setidaknya tanganku masih bisa mendukungku untuk menghantam wajahnya ketembok beton.

“APA-APAAN INI? ADA APA DENGAN MOBIL KAMI. YA! KALIAN. APA YANG KALIAN LAKUKAN!!” 4 orang pria berbadan seperti ‘ade ray’ datang dengan memasang wajah murka. O-ow, ini bukan pertanda baik.

Aku mulai mundur beberapa langkah. Takut kalau-kalau para ‘atlet angkat besi’ itu berbuat yang tidak-tidak padaku. Bisa-bisa saat aku pulang, bukan hanya kakiku saja yang terluka.

Sedangkan minho hanya terdiam. Seketika wajah idiotnya itu berubah menjadi manusia yang mati suri. Tak bisa ditebak apa yang sedang ia pikirkan.

“ya! Berliannya hilang. Tak ada didalam mobil. Pasti mereka yang mencurinya.” Salah satu dari kawanan ‘ade ray’ itu berbicara pada temannya dengan nada yang tak kalah kasarnya.

Apa maksudnya berlian? Kenapa mereka menuduh kami mencuri? Mereka siapa? Astaga, jangan-jangan..

“ya! kembalikan berlian itu!” kini mereka semua memlototiku lalu bergantian menatap minho yang tak kunjung sadar dari ‘komanya’.

Tak sampai dalam hitungan menit. Salah satu ‘ade ray’ berkepala botak memiting tangan minho dan yang lainnya mulai mendekat kearahku.

Aku tak tau harus berbuat apa. Si ‘banci’ sudah tak bisa diharapkan lagi. Jalan untuk melarikan diripun sudah tak ada sama sekali. Apakah ini akhir dari kisah hidupku?

Tidak, ini awal dari semua masalahku.

Flashback end-

TBC

terima kasih ^^

Iklan

3 comments on “Sorry, I’m Pregnant [part 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s