Be Good Stranger [1]

 

Tittle : Be Good Stranger

Author : retnoboo

Genre : horror, romance, angst, au

Rating : G / PG-13

Lenght : Chaptered

Cast :

– Aku (karna saya gak pake nama siapapun)

– find it!

 

Jumat berganti sabtu. Sabtu berganti minggu. Minggu berganti senin. Dan begitu seterusnya. Tak ada hentinya aku menghabiskan waktu disekolah ini.  Mungkin bagi sebagian orang, sekolah adalah tempat yang tepat untuk berkumpul dengan kawan-kawan. Tapi tidak bagiku yang yang memiliki kepribadian aneh. Aku sama sekali tidak mempunyai teman. Semua murid hanya menganggapku angin lalu. Bahkan untuk melirikku saja mereka enggan.

Tidak jauh berbeda dengan lingkungan tempatku bermukim. Semua orang yang mengenal keluargaku pastilah merasa kurang  nyaman bertetangga dengan keluargaku. Seperti yang kubilang tadi. Aku aneh. Keluargaku pun aneh. Tak satupun dari kami yang dapat menghindari keanehan itu.

Kalau saja semua gadis seusiaku ingin memiliki wajah yang cantik dan mulus, tidak denganku. Dan jika mereka berlomba-lomba untuk menguruskan badan bak model papan atas yang selalu mereka idam-idamkan, tapi tidak denganku. Semua yang mereka inginkan itu sudah ada dalam diriku. Hanya saja, mereka tak pernah menganggap kelebihanku itu adalah sebagai sesuatu yang normal.

Aku aneh. Bukan hanya dari segi fisik, namun dari segi kepribadianpun aku mengakui bahwa diriku ini aneh. Memiliki mata berwarna merah terang serta kulit pucat yang berkilauan jika terkena cahaya bukanlah suatu kelebihan yang bisa kubanggakan. Bukan hanya aku. Tapi seluruh keluargaku pun memiliki keanehan yang sama sepertiku.

Ibuku yang berprofesi sebagai editor lepas juga tak kalah mengerikannya denganku. Ia bahkan memiliki keanehan yang lebih spesifik. Jika semua manusia hanya mempunyai 2 gigi taring, tidak halnya dengan ibuku. Hampir semua deretan giginya merupakan susunan dari gigi taring. Dan ayahku. Ia adalah seorang pendeta yang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya didalam gereja ketimbang berkumpul dan bercengkrama dengan masyarakat luas. Hanya pada ibuku, aku, dan Tuhannya lah ia bersedia untuk membuka suara.

Walaupun demikian, setidaknya aku masih bersyukur karna tidak ada satu orangpun yang berniat mengusik keluarga kami. Disaat kami memulai beraktivitas, mereka hanya akan melemparkan pandangan anehnya pada kami. Walaupun perlakuan seperti itu sudah bertahun-tahun lamanya mereka tunjukkan. Namun kebiasaan kurang mengenakan itu masih saja mereka lestarikan sampai sekarang.

“hey, kau..” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku terlonjak dan sedikit kalang kabut karna baru kali ini ada orang yang berani untuk menegurku.

“Eh? Siapa? Aku?” tanyaku kemudian. Seorang  laki-laki berperawakan tinggi jangkung tengah berdiri dihadapanku sekarang.

Aku tidak kenal siapa dia? dan untuk lebih jelasnya. Aku tidak kenal semua orang disekolah ini.

“menurutmu?”

“aku tidak tahu?”

“kau ini bodoh atau pura-pura bodoh sih? Ya tentu saja aku sedang berbicara denganmu?” ia mengerutkan keningnya seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya dihadapanku.

Ia sama sekali tidak merasa takut padaku. Bahkan menatapku dengan tatapan anehpun tidak.

“kau.. kenapa? Kau masih waras tidak?” Aku sedikit curiga. Mungkin saja sekarang aku sedang dikerjai. Dan mungkin saja setelah ini ia akan melempariku dengan telur mana kala seperti kejadia dua tahun yang lalu saat 3 orang gadis mendekatiku dengan sikap  manis lalu menyiramku dengan seember air kubangan yang bau dan kotor.

“selain bodoh, ternyata kau juga gadis yang kurang sopan.” Ia melipat kedua tangannya didada. Sikapnya berubah menjadi sikap tidak suka padaku.

2 menit. Ia sudah berbicara dan menatapku selama dua menit. Namun selama itu juga ia tak pernah merasa aneh padaku? Apa sekarang aku sedang bermimpi?

“kau.. apa tidak merasa aneh? Eh, denganku?”

“aneh? Tidak. Kau normal.” Benarkah? Benarkah? Benarkah? Ia orang pertama yang menyebutku normal.

“Begini, aku hanya ingin menanyakan dimana letak ruang kepala sekolah. Karna sudah setengah jam aku bekeliling tapi tidak ada satupun ruangan yang bertuliskan principal room.” Ia langsung ketujuan pokoknya.

Ah, sekarang aku tau kenapa ia tak merasa aneh denganku.

“kau murid baru?”

“menurutmu?”

“aku tidak tahu. Aku tidak mengenal siapapun disekolah ini.”

“kau juga seorang murid baru?”

“tidak.” Aku menggeleng pelan.

“lalu?” ia tak mengerti dengan ucapanku.

Aku hampir membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya sebelum otakku mulai memikirkan akibat yang akan ditimbulkan jika aku menjawab pertanyaannya.

“belok kiri. Lalu naik kelantai 3 setelah itu pergilah keujung koridor. Disana kau bisa menemukan ruangan kepala sekolah.” Ucapku seraya menunjukan jalan mana yang seharusnya dia lewati.

“terima kasih cantik.” Ia mengerlikan mata kearahku lalu berjalan sambil lalu meninggalkanku yang masih berdiri dengan sejuta kebingungan.

Sebenarnya yang aneh itu siapa? Aku? Atau laki-laki itu?

===============================================================================

Toilet! Tempat teraman dimana tak ada seorangpun yang akan melayangkan sejurus pandangan menyebalkan itu padaku. Aku bisa berjam-jam berdiam diri ditempat ini. walaupun tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang nyaman, tapi hanya tempat inilah yang bisa membuatku merasa nyaman.

Krek…. Krekk.. Krekk..

“oh! sial!” umpatku saat pintu toilet yang sedang kugunakan dikunci dari luar oleh seseorang.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Memang sudah menjadi keseharianku dijahili oleh gadis-gadis bandit itu.

“apa ada orang diluar? Tolong keluarkan aku.” Teriakku sia-sia. Mereka tidak akan mungkin mengeluarkanku begitu saja. Dulu, kupikir mereka itu teman yang baik saat mereka bermanis-manis didepanku dan selalu mengajakku bicara. Tapi sepertinya semua orang didunia ini sama saja. Tak ada satu orangpun yang mempunyai hati yang tulus.

“hallo.. siapa saja tolong aku!”

Ini percuma. Aku menyerah dan lebih memilih untuk menyimpan energiku sampai mereka lelah mengerjaiku.

“siapa saja diluar sana. Komohon keluarkan aku. Ini tidak lucu.”

Aku terduduk lemas diatas kloset. Ini mungkin tak akan lebih parah dari kejadian minggu lalu saat mereka secara terang-terangan melempariku dengan puluhan batu kerikil ketika aku datang kesekolah.

“nikmati harimu sayang. Jangan lupa titip salamku untuk nenekku disurga.” Seseorang mengetuk pintu toilet kemudian tertawa terbahak-bahak diikuti gelak tawa gadis lainnya.

Aku tidak mengerti maksud perkataannya? Surga? Ada apa dengan surga?

Dadaku mulai sesak. Kenapa ruangan ini pengap sekali? Kenapa jendela itu mulai mengeluarkan asap tebal? Ada apa ini?

“siapa saja. Tolong aku.. komohon..”

Tidak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaanku. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Seperti ingin mati.

Lalu semuanya gelap.

===================================================================================

Samar-samar aku mulai membuka mata dan menemukan diriku tengah berbaring diatas kasur putih yang bisa kuduga adalah kasur yang sering digunakan oleh orang yang sedang sakit karna terlihat sedikit bercakan darah mengotori ujung kasur. Aku sedikit menggeliat mana kala menyadari seorang wanita berpakaian putih memasuki ruangan cerah berwarna putih ini.

“sudah sadar?”

“aku kenapa? Dimana aku sekarang? Anda siapa?” aku tak menggubris pertanyaannya dan malah menerornya dengan beberapa pertanyaan yang sepertinya belum bisa ia jawab.

“aku perawat diklinik ini. Beristirahatlah. Kondisimu masih belum stabil.” Ia menyodorkanku segelas air dan tanpa aba-aba aku langsung menyambar dan meminumnya. Tanggorokanku kering.

“kau dehidrasi. Pelakunya masih dalam penyelidikan.”

“pelaku? Siapa? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“kau tidak ingat? Toilet yang sedang kau gunakan pada waktu itu telah dibakar oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

Aku menggeleng pelan. Ia mengerutkan kening lalu mulai mendekatiku dan duduk diunjung kasur yang kugunakan.

“kau benar-benar tidak ingat? Atau kau hanya lupa?”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan berusaha untuk mengulang lagi memori dimana setiap kejadian tak terduga itu terjadi. Aku masih tidak bisa untuk menjabarkan secara rinci kejadian itu. rasanya semua kejadian itu tertanam didalam otakku dan sulit untuk diutarakan.

“Cobalah untuk mengingat kejadian itu. itu akan membantu penyelidikan polisi.”

“akan kuusahakan.”

“kau beristirahatlah. Sebentar lagi orang tuamu akan datang untuk menjemputmu.”

Ia beranjak dari tempat tidur yang kugunakan lalu berjalan menuju pintu. Sekilas kulihat ia melayang sedikit pandangan heran mana kala melihat tubuhku yang mulai berkilauan karena terkena pancaran cahaya yang melewati jendela. Sudah kuduga.

Ia pun tak bisa mengelak dari keanehanku.

====================================================================================

Aku duduk diujung tempat tidur. Melipat kedua kakiku dan membenamkan wajahku diatara kedua lututuku. Aku tak habis pikir mereka akan melakukan semua hal berbahaya itu padaku. Mereka benar-benar tak menginginkanku.

Aku masih bisa terima jika mereka menganggapku gadis freak dan kampungan. Tapi aku tidak bisa terima jika mereka menjatuhkanku dengan cara seperti ini. mereka terlalu egois. Menyingkirkanku dengan cara selicik ini.

“kau belum tidur?”

Tiba-tiba pemikiranku teralih ketika pintu kamarku dibuka oleh ibuku yang dengan seenaknya menyelonong menaiki tempat tidurku.

“belum mengantuk bu.”

“besok kau harus masuk sekolah bukan? Cepatlah istirahat. Kau tidak bisa meminta ijin lagi untuk yang keempat kalinya.”

“tentu saja. Aku akan kembali kesekolah bu.”

Aku menatap wanita yang kini tengah tersenyum sayu kepadaku. Ia membelai rambutku lalu mengecup keningku.

“kalau begitu cepatlah tidur.  Dunia ini tidak selamanya malam sayang.”

Ia beranjak dari tempat tidurku lalu mulai bergegas menuju pintu.

“bu..” ucapku menghentikan langkahnya.

“ya sayang?”

“selamat malam.” Aku menyunggingkan senyum simpul padanya. Setidaknya ia adalah satu-satunya orang yang dapat mengerti keadaanku.

“selamat malam sayang. Mimpi indah.”

Pintu kamarku tertutup pelan. Aku kembali berkutat dengan sejuta pemikiranku.

Ya. Mungkin aku memang harus kembali kesekolah.

Mencari siapa sebenarnya dalang dari semua masalah ini.

to be continued… 

 

=__Love Is Pain__=

=__I Hate Them Damn Love Songs__=

=__Momento Of Ours__=

entah apa yang ada didalam otak saya sehingga mempublish cerita ini..?

awalnya ini cuma tugas sekolah yang harus dikumpul sejak beberapa bulan yang lalu, tapi entah kenapa otak saya memerintahkan saya untuk mempublish tulisan abal ini..

ini adalah cerita oneshoot.. tapi saya pecah jadi beberapa bagian.. entah karena apa yang jelas otak saya yang memerintahkan..

okeh, saya gak minta koment kok.. kalo mau baca ya silahkan.. tapi kalo koment juga ya terima kasih..

ini cuman penyaluran ekspresi penggalauan terhadap lingkungan saya yang kurang berkenan..

sekian dan terima kasih..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s