Be Good Stranger [2]

Tittle : Be Good Stranger


Author : retnoboo


Genre : horror, romance, angst, au

 

Rating : G / PG-13

 

Lenght : Chaptered

Cast :

– Aku (karna saya gak pake nama siapapun)

– find it!


______________________________________________________________________________________________________

“hei..”

Aku berhenti menyuapkan makanan kedalam mulutku. Menoleh kearah datangnya suara. Tidak ada satu orangpun yang pernah menegurku selama aku bersekolah disini. Kecuali….

“boleh aku duduk disini?” tanya laki-laki yang tempo hari menanyakan letak ruang kepala sekolah padaku.

“terserah saja.” Jawabku singkat. Aku tak mau berbicara terlalu banyak pada orang yang baru kukenal. Karna aku mengenalnya hanya sebatas nama. Se Hun.

Ia sekelas denganku. Entah kenapa ia juga duduk beresebelahan denganku. Dan pada saat itu juga aku baru mengetahui bahwa dia juga merupakan seseoarang yang aneh. Aneh karena mau berbicara dengan gadis aneh sepertiku.

“ngomong-ngomong, kau lihat tidak gadis-gadis diujung sana?” Ia menunjuk segerombolan gadis dengan ujung dagunya sambil memicingkan mata.

Aku mengikuti arah pandangannya dan mendapati gadis-gadis berandal yang biasanya mengerjaiku tengah memandang geram kearahku. Aku tak tau maksud dari tatapan mereka kepadaku.

“aku tidak mengenal mereka.”

“sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan mereka.”

“aku memang tidak pernah dekat dengan mereka.”

Dan untuk lebih jelasnya. Aku tidak pernah dekat dengan semua orang disekolah ini. bukan aku yang mau, tapi mereka semua yang tidak mau dekat-dekat denganku.

“tenang saja. Kau masih mempunyai aku.” Ia menepuk pundakku dan tersenyum sumringah.

“lepaskan tanganmu sebelum aku yang menyentuhmu.” Aku mulai memandang geram kearahnya.

Dalam 2 hari ia mulai berani menunjukan perangai aslinya didepanku. Contoh: ia tak segan-segan menggiringku (dengan menggandeng tanganku) kemanapun ia pergi, membuatku menjadi semacam pengekor dan dialah jokinya, tidak hanya itu, dia juga membuatku hampir terserang bengek, mana kala ia tak segan-segan menunjukan sikap interested-nya dengan cara memelukku didepan orang banyak, seperti sekarang ini.

“oupss.. tidak sengaja. Hanya gerak reflex.”  Aku tak tahan tiap kali melihat seringaiannya itu.

Ada semacam aliran listrik yang tidak bisa dijelaskan dalam hukum faraday tiap kali aku melihat senyumnya yang cemerlang.

“tapi aku serius saat mengatakan kau tidak usah dekat-dekat dengan gadis-gadis itu.”

Suara soprannya terdengar tegas sekarang. Aku tak lagi memperdulikan makananku yang teronggokan tak terjamah itu. Kini pikiranku hanya focus pada perkataannya.

Kupikir sekarang kemi benar-benar sama. Sama-sama aneh, dan sama-sama tidak suka dengan gerombolan gadis yang tengah duduk diujung kafetaria sambil memegang sepucuk rokok ditangan mereka. Fuck’in bitch.

“tahu apa kau tentang mereka?”

“hey come on. Semua bayi dikorea pasti bisa menebak mereka bukan orang baik hanya dengan melihat dandanannya saja.”

“dan semua bayi dikorea pasti bisa mengetahui bahwa aku ini aneh hanya dengan sekali mentapku. Apa kau tidak sadar itu?” ucapku dengan sedikit sindiran.

Sejujurnya, aku tak mau merendahkan diriku sendiri didepan orang lain. aku hanya ingin membuka matanya lebar-lebar, menjelaskan padanya bahwa aku ini aneh. Tidak seharusnya ia menganggapku seperti orang normal. Aku memang sangat menginginkan semua orang bersikap baik padaku. Tapi terkadang semua itu sangat membuatku merasa… Eh, aneh.

Dan rasanya lebih aneh dari biasanya. Tidak masuk akal. Dan susah diterima akal sehatku.

“kau tidak pernah belajar bahasa korea yang baik dan benar ya?”

“jangan mengalihkan pembicaraan!”

“aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya meneruskan pertanyaanmu tadi. Dan aku hanya akan menjawab. Aku bukan bayi, jadi aku tidak perlu menganggapmu aneh. Right?” Ia tersenyum penuh kemenangan sekarang.

Ouh, betapa konyolnya membicarakan masalah seperti ini. aku dibodohi.

“kau terlalu berputar-putar.”

“tapi aku memang benar kan…”

Aku hanya memutarkan bola mata dan mulai berdiri kemudian berjalan meninggalkannya yang masih berteriak-teriak memanggil namaku dibelakang sana.

Aku sengaja tak menggubrisnya. Hanya ingin membiarkannya membuntutiku. Biar kali ini dia yang menjadi pengekorku.

“cepat susul aku. Kau tak akan bisa jauh-jauh dari orang aneh sepertiku.” Kataku pada pria yang sedang berlari-lari kecil mengejarku.

=====================================================================================

Braaakkkk..

“semakin lama kau semakin berbahaya ternyata.. eum?? Sudah kau mantrai apa laki-laki itu sehingga dia tidak bisa jauh-jauh dari gadis nerd sepertimu?”

Aku merasakan leherku dicekik kuat oleh salah seorang gadis yang entah siapa namanya namun aku masih ingat dia adalah salah satu dari puluhan gadis yang pernah menganiayaku.

“ak-aku-ti-dak-mela-ku-kan-apa-apa.” Ucapku terbata-bata, kehabisan udara untuk berbicara.

“benar-benar gadis jalang. Masih berani berbohong ternyata!”

Genggaman tangannya semakin lama semakin keras mencekik leherku. Aku seperti kambing yang sedang disembelih atau sedikit lebih baik, seperti ikan yang megap-megap mencari air dihamparan udara. Ia tak memberikanku ruang sedikit saja untuk bernapas.

“dengar. Aku hanya akan mengatakannya sekali dan tidak ada pengulangan untuk masalah seperti ini lagi. Laki-laki itu milikku. Dan kuwajibkan kau tidak boleh mendekatinya.

Jika dia mendekatimu, menjauhlah, jika kau bertemu dengannya, bersikaplah normal seperti halnya kau biasa bersikap acuh tak acuh kepada orang lain. akan kupastikan jika kau menuruti perintahku, aku tidak akan pernah menyakitimu. Tapi jika kau masih nekad. Maka kau tahu sendiri akibatnya.”

Dengan kasar ia menghempaskanku kelantai kamar mandi dan dengan seenak jidatnya ia pergi begitu saja tanpa mendengarkan persetujuanku terlebih dahulu.

Tak ada pilihan lain bagitu untuk tidak menuruti perintahnya. Karena perintahnya merupakan harga mati yang tidak bisa kutolak dengan sekali ucapan.

“aku tidak mau! Kau dengar itu! AKU TIDAK MAU!” teriakku sia-sia dengan napas terengah-engah.

Mereka sudah pergi. Jauh sebelum aku menolak perintah mereka.

=====================================================================================

“ceritakan…”

“tentang apa?”

“kudengar mereka menyekapmu didalam toilet selama 3 jam?”

Aku menengadahkan kepala menatapnya. Matanya berbinar-binar memamcarkan kilat kekhawatiran tak jelas padaku.

“tidak. Berita itu terlalu berlebihan.” Ucapku enteng. Ia semakin gemas dengan jawabanku. Aku tahu itu.

“tapi mereka menjahatimu. Benarkan?” ia mulai gelisah sekarang. Terlihat jelas dari cara berbicanya yang terlalu memaksa dan terburu-buru ingin mendengarkan jawabanku.

“tidak juga. Setidaknya tidak lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.”

Ia mendengus mendengarkan jawabanku. Ia frustasi sekarang. Itu lucu sekali. Dia seperti bayi yang merengek minta permen saat sedang bergumam tidak jelas seperti ini.

“bisa kau jelaskan kenapa? Kau membuatku terlalu bingung.”

“entahlah. Aku juga tak tahu pasti. Tapi sepertinya semenjak kau bersamaku. Mereka semakin jarang dan semakin sungkan untuk menyakitiku. Bukankah itu bagus?” tanyaku seraya mengangkat bahu.

Aku bisa melihat dari sudut matanya, ia masih bingung. Tapi perlahan namun pasti ia mulai mengereti kemana arah pembicaraanku. Ia mulai membuka suara sebelum akhirnya aku memotong pembicaraannya.

“tapi…”

“jadi sebaiknya kau jangan jauh-jauh dariku. Tetaplah didekatku. Bawa aku kemanapun kau pergi. Jika perlu seret aku jika aku tak mau pergi denganmu. Maka dengan begitu aku aman.”

ia melongos dan terdiam begitu mendengar kata-kataku. Aku tertawa kecil dan kemudian berdeham untuk menyadarkannya kembali.

“kau gila. Itu mengerikan! Aku masih punya kehidupan sendiri.”

“sudahlah. Aku hanya bercanda. Lagipula, mereka tak seberbahaya yang kau kira. Aku masih mampu menghadapi mereka jika hanya dengan serangan-serangan kecil. Itu tak masalah bagiku. Terlalu sering kualami.”

Otot-ototnya yang menegang berangsur-angsur mulai merenggang. Ia tak lagi mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya. Deru napasnyapun berangsur-angsur stabil disusul dengan tinggi suaranya yang tak lagi melengking.

“kau yakin? Maksudku, aku masih bisa menemanimu kemanapun kau mau jika kau membutuhkanku?” ia menatapku dengan tatapan penuh harap.

Aku menaikan sebelah alisku saat menganalisis ucapan yang baru saja ia lontarkan. Aku mulai merasa ia sangat… terobsesi padaku. Bukan kali ini saja aku menyadarinya, sering malahan. Namun aku menepis mentah-mentah pemikiranku itu, takut jikalau semua itu hanya perasaanku saja.

“bukankah selama ini kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Tanpa aku mintapun kau selalu melakukannya.”

“ya.. tapi sekarang aku ingin kau yang memintaku. Mintalah aku untuk selalu bersamamu, memohonlah agar aku selalu menjaga dan melindungimu. Dan kemudian aku akan menerimanya dengan senang hati. Itu tidak sulit bukan?”

“atas dasar apa aku harus memohon, meminta dan bersujud-sujud padamu? Itu tidak masuk akal? Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“karna aku menyayangimu. Aku selalu ingin melindungimu, mengawasimu dari jarak jauh jika kau sedang jauh dariku. Tidak bisakah kau memberiku sedikit celah agar aku bisa lebih bernapas lega jika aku berada disampingmu? Ini terlalu memusingkan.”

Ia mengerutkan dahi mana kala melihat ekspresiku yang tak kunjung berubah. Mungkin sekarang ia sedang dilanda dilema berkepanjangan karna tak mendapatkan jawaban pasti dariku.

Baiklah, mungkin aku harus bertindak dan lebih terbuka sekarang.

“kalau begitu lakukanlah. Aku tidak ingin meminta kepadamu. Tapi aku memberimu izin untuk selalu berada dekat denganku. Jadi jangan coba-coba menjauh dariku.” Aku berdiri dan sedetik kemudian sudah pergi menjauh darinya yang masih mematung.

“ayo! Katamu kau tak ingin jauh-jauh dari orang aneh sepertiku.” Kataku sambil melambaikan tangan pada seseorang yang kini akan selalu berada didekatku. Se Hun.

to be continued… 

 

=__Love Is Pain__=

=__I Hate Them Damn Love Songs__=

=__Momento Of Ours__=

entah apa yang ada didalam otak saya sehingga mempublish cerita ini..?

awalnya ini cuma tugas sekolah yang harus dikumpul sejak beberapa bulan yang lalu, tapi entah kenapa otak saya memerintahkan saya untuk mempublish tulisan abal ini..

ini adalah cerita oneshoot.. tapi saya pecah jadi beberapa bagian.. entah karena apa yang jelas otak saya yang memerintahkan..

okeh, saya gak minta koment kok.. kalo mau baca ya silahkan.. tapi kalo koment juga ya terima kasih..

ini cuman penyaluran ekspresi penggalauan terhadap lingkungan saya yang kurang berkenan..

sekian dan terima kasih..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s