Be Good Stranger [4]

Tittle : Be Good Stranger


Author : retnoboo


Genre : horror, romance, angst, au

Rating : G / PG-13

Lenght : Chaptered

Cast :

– Aku (karna saya gak pake nama siapapun)

– find it!

 

=============================================================================================

 

Tanganku mengepal pertanda aku sedang dirundung emosi berkepanjangan. Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah terhentak-hentak dan raut wajah tak kalah kasarnya dengan hentakan kakiku. Aku bosan setiap kali melewati kerumunan murid-murid kolot yang selalu memeperhatikanku dengan tatapan menyindir.

 

Aku melebarkan langkah kakiku dan mempercepat gerak jalanku begitu merasa tak ada lagi yang akan memperhatikanku. Ini sudah menjadi kebiasaan rutinku sejak seminggu yang lalu. Sejak Se Hun tak lagi menampakan batang hidungnya dihadapanku. Dan sejak saat itu pula semua orang selalu menghardikku dengan tudingan miring yang jelas-jelas tak ada sangkut pautnya denganku.

 

Aku berjalan gontai karena kelelahan begitu sampai diambang pintu kelas. Setiap harinya aku selalu berlari marathon 5 meter untuk mencapai tempat ini.

 

“lama tidak bertemu. Kau merindukanku?”

 

Aku terlonjak dan cepat-cepat berbalik mencari arah datangnya sumber suara.

 

Mataku hampir saja keluar dari tempatnya dan mulutku tak henti-hentinya memperagakan bentuk O.

 

Ia melambai-lambaikan tangannya dihadapanku dan akupun langsung tersadar.

 

“KAU!”

 

 

=====================================================================================

 

 

“kau merindukanku tidak?”

 

“tidak.”

 

“bohong.”

 

“aku tidak bohong  Se Hun.”

 

“kau bohong.”

 

“tidak.”

 

“bohong.”

 

“tidak.”

 

“bohong.”

 

“ya aku bohong. Lalu kenapa?”

 

Aku duduk dikafetaria. Ditemani oleh setan tengil yang kembali menampakan dirinya dihadapanku. Sudah 7 hari lamanya ia tak menampakan diri, dan dalam 7 hari saja sudah mampu membuatku rindu sekali padanya.

 

“berarti kau merindukanku.”

 

Ia tersenyum jahe sambil menyeruput ice moccanya. Aku tersenyum simpul pertanda mengiyakan perkataannya.

 

“kau tidak ingin tau kenapa aku tidak turun?”

 

“tidak. Untuk apa? Yang jelas kau sudah berada disini.” Ucapku enteng.

 

“7 hari lalu tepat 15 tahun meninggalnya ayahku.”

 

Aku terdiam. Sedikit menahan napas dan sedetik kemudian mulai berusaha untuk mentapnya dan berbicara senormal mungkin padanya.

 

“aku turut berduka cita.”

 

“biasanya setelah hari itu, aku akan mengurung diri didalam kamar selama berbulan-bulan. Tapi untuk kali ini, aku tidak tahan untuk tidak melihat dunia luar. Karna sekarang ada orang lain yang juga tak kalah pentingnya dibanding ayahku.” Ia menatapku sambil tersenyum.

 

“…..”

 

“aku lebih mempriorotaskanmu ketimbang terlarut dalam berbagai suasana kesedihan yang berkecamuk didalam otakku. Dan ternyata rasa ketertarikanku padamu dapat membuatku merasa lebih kuat dan yang lebih bagusnya lagi, aku tak lagi mengingat kesedihan-kesedihanku yang lalu.”

 

Matanya tak menatapku. Ia sedang menatap keluar jendela kafetaria yang tertutup oleh berbagai pepohonan tapi sangat sejuk untuk dilihat. Sedangkan aku, hanya terbengong-bengong menyaksikannya berbicara.

 

“kalau begitu, seharusnya kau berterima kasih karena aku telah membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.”

 

Ia tertawa kecil. Lalu dengan lembut mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa ber-aduh-ria karena dia telah mengacaukan tatanan rambutku.

 

“terima kasih untuk segalanya. Sampai pada saatnya nanti, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”

 

 

=====================================================================================

 

 

“kita mau kemana?” ucapku begitu tersadar aku telah berada didepan gerbang sebuah TPA (tempat pemakaman umum) yang tak jauh dari pusat kota.

 

“ikut aku.” Dia menyeretku masuk dan aku hanya menurutinya.

 

Aku hanya memperhatikan tingkah lakunya sampai-sampai tidak sadar bahwa kami telah berada didepan sebuah makam yang bisa kutebak pasti baru dibersihkan beberapa hari yang lalu.

 

“itu makam ayahku.” Ia menunjuk sebuah makam yang jaraknya tak jauh dari tempat kami berdiri.

 

“namamu dan nama ayahmu sama?” ucapku begitu memperhatikan tulisan yang tertera diatas nisan makam tersebut. Ia mengangguk khidmat.

 

“sejujurnya akulah yang mengganti nama asliku dengan nama ayahku. Nama lahirku bukanlah Oh Se Hun, itu adalah nama ayahku.”

 

“kenapa diganti?” tanyaku polos.

 

“karna aku sangat menghargai ayahku dan aku sangat tidak rela jika dia meninggalkanku secepat ini.”

 

Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal dan dapat kudengar walaupun samar-samar, ia menggemeretakan giginya dengan kuat. Ia benar-benar sedang menahan emosi. Aku tak pernah melihatnya seemosional ini.

 

Aku menggenggam tangannya yang walaupun masih mengepal, perlahan mulai rilex. Kutatap matanya yang mulai banjir akan air mata kesedihan. Dan kurangkul dia agar tak menjadi lebih emosional lebih dari sebelumnya.

 

Lama sebelum akhirnya ia mulai bisa mengumpulkan puing-puing semangat hidupnya yang tercecer entah kemana.

 

“lalu, siapa nama aslimu?” aku membuka pembicaraan setelah beberapa lama kami tenggelam dalam kebisuan.

 

“Oh Se Hyun. Nama asliku, Oh Se Hyun.”

 

Dan ternyata itulah nama asli dari seseorang yang kucintai.

 

 

=====================================================================================

 

 

Tok tok tok..

 

“boleh kuganggu ayah?” tanyaku disela-sela pintu yang terbuka.

 

“jika ayah tidak mengijinkanpun kau akan tetap mengganggu ayah.”

 

Aku terkekeh. Lalu dengan secepat kilat menarik kursi yang ada disebelah kursi ayahku kemudian mendudukinya.

 

“aku masih ingin mendengar pengakuan ayah?”

 

“pengakuan yang mana?”

 

“pengakuan tempo hari.”

 

“ayah tidak ingat.”

 

Aku memasang wajah masam. Jelas-jelas ia mengatakannya dengan sadar dan tak dipaksakan karna dia sendiri yang menceritakannya. Dan sekarang, ia malah mempermainkanku.

 

“ayolah ayah. Sekali ini saja.” Ucapku sambil bergelanyut manja pada lengannya. Ia menatapku garang dan aku membalasnya dengan kerlipan mata yang tak kalah menggoda dari wanita-wanita permakan diluar sana. Ia mendengus dan akhirnya membuka suara.

 

“dulu ayah adalah seorang pengangguran yang tak punya pendidikan dan tak punya pengalaman kerja sama sekali. Walaupun saat itu ayah punya pekerjaan sampingan sebagai buruh kasar. Namun ayah tidak pernah puas dengan apa yang ayah dapatkan. Ayah selalu menginginkan lebih, ayah tidak pernah mau kalah dari orang lain.

 

Sampai pada suatu hari, seseorang menawari sebuah pekerjaan berbahaya namun menjanjikan kepada ayah. Ia menyuruh ayah menculik seorang anak laki-laki dari seorang pengusaha  kaya raya dan membawanya pada orang tersebut. Karna ayah rasa pekerjaan itu mudah dan saat itu ayah juga sedang membutuhkan uang untuk membiayai hidup, ayah menerima penawarannya tanpa tau resiko yang akan ayah alami.

 

Ayah melakukan semua scenario sesuai rencana sampai pada suatu malam, ayah diburu oleh kawanan polisi serta mafia-mafia yang ternyata adalah suruhan dari ayah anak laki-laki tersebut. Ayah tak dapat berkutik, namun dengan teledornya ayah mengarahkan sebuah pisau pada perut ayah anak laki-laki itu. sehingga menyebabkan ayah dari bocah itu meninggal, mulai dari saat itu ayah dipenjara dan baru dibebaskan 8 tahun kemudian.

 

Sampai saat ini, ayah masih menyimpan penyesalan dan rasa bersalah pada anak laki-laki yang ayah culik dan ayah bunuh orang tuanya. Ayah benar-benar menyesal. Ayah benar-benar ingin meminta maaf pada anak laki-laki itu.”

 

Ayahku mulai menunduk. Aku yang sedari tadi tak berkedip memperhatikan dan mendengarkan ayahku bercerita hanya bisa membelalakan mata. Aku tak tahu bahwa masa lalu ayahku begitu kelam. Begitu menakutkan.

 

“lalu, siapa nama ayah dan anak itu, ayah?”

 

“kau bisa melihatnya sendiri dibuku ini. dulu ayah telah mengumpulkan informasi tentang mereka. Dan hanya ini yang ayah dapatkan.” Ia menyodorkan sebuah buku usang yang sampulnya telah robek tak berbentuk.

 

Aku membukanya perlahan. Dan betapa terkejutnya aku begitu melihat dan mengetahui isinya.

 

“ayah, apakah ayah tidak salah?” tanyaku meyakinkan.

 

“tidak. Kenapa?”

 

“nama mereka…” ucapku terputus.

 

“ya. Nama mereka, Oh Se Hun dan Oh Se Hyun.”

 

 

to be continued… 

 

=__Love Is Pain__=

=__I Hate Them Damn Love Songs__=


=__Momento Of Ours__=

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s