In The Night Kiss [1nd Kiss]

babyHui StoryLine

 

 

Kyuhyun Class, Seoul International University, South Korea

Aku menatap keseluruh penjuru ruangan, mereka semua menatapku dengan pandangan was-was. Tak sedikit yang mengernyit saat melihatku meremukan handphone keluaran sebuah perusahaan terkemuka di jepang itu dengan sekali genggaman. Tapi fokusku beralih pada satu orang yang kini tengah berdiri mematung dihadapanku.

“Kau mau aku melemparkannya juga ke tempat sampah?”

Kuonggok rongsokan benda itu dihadapannya. Rasanya bukan handphone ini saja yang ingin kuremukan. Tapi seluruh bagian wajah iblisnya itu juga ingin sekali kutinjak-tinjak dengan sepatu catzku. Dia menggeram kesal kearahku. Menghamburkan rambut kebelakang dengan tangan kirinya.

“Yak, aku tidak peduli jika kau menghancurkan seluruh handphoneku atau benda elektronikku yang lainnya. Tapi tidak bisakah kau bersikap lebih bermoral? Kau terlihat seperti baru keluar dari hutan belantara dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan modern padahal pada kenyataannya kau sudah lama menetap diluar negeri yang notabenenya sangat tau tata karma dan luar biasa bermoral. Dan asal kau tau, kau pikir aku mau melihatkan foto jelekmu saat tidur kepada teman-temanku? Maaf, tapi jawabannya sudah tentu tidak. Nunnaku mengambil gambarmu saat tidur dengan air liur menetes-netes secara diam-diam dengan menggunakan handphoneku. Aku juga baru mengetahuinya saat seluruh temanku memeriksa handphoneku dan menemukan fotomu itu.”

Laki-laki ini, tidak bisa dibilang orang sembarangan. Otak encernya itu tentu membuatnya menjadi anak emas diuniversitas ini, wajahnya –yang kuakui sedikit tampan- itu juga membuatnya jadi pangeran kesiangan yang selalu dielu-elukan oleh gadis-gadis bermuka plastik diuniversitasku. Dan sialnya –yang menurut seluruh mahasiswi lain adalah keburuntungan- adalah aku terpaksa –dipaksa dan diancam oleh ayahku- untuk tinggal dirumah laki-laki laknat ini.

“Kau benar-benar iblis!” desisiku hampir tidak terdengar. Tapi aku yakin, laki-laki itu pasti mendengarnya, walaupun jarak 2 meter terbentang diantara kami.

Aku mengeratkan genggamanku disela-sela kemeja kedodoranku setelah melihat seringaiannya tersungging sepersekian detik dibibirnya. Belum sampai 1 bulan aku ditampung dirumahnya tapi aku sudah sangat tidak suka akan sikapnya yang seolah-olah mengetahui segalanya, menganggap dirinya selalu benar.

“Jangan mencari gara-gara denganku jika kau masih berharap dapat hidup tenang. Aku sangat tidak suka mempunyai masalah dengan perempuan apalagi sekarang dia sedang meminta tumpangan tempat tinggal dirumahku.”

“Cih. Hya, kau tau pasti jika aku sangat amat terpaksa tinggal dirumahmu. Jika bukan karena ibumu merengek pada ayahku agar aku tinggal dirumahmu, sekarang pasti aku tidak akan pernah mengenal makhluk iblis sepertimu.”

Cho KyuHyun.. Ani, aku terbiasa memanggilnya Tuan Iblis, dia selalu mengungkit-ungkit masalah kehadiranku dirumahnya. Padahal sudah jelas-jelas aku dan dia hampir tidak pernah bertatap muka ketika dirumah. Hanya saat sarapan pagi, turun sekolah, dan jika berpas-pasan secara tidak sengaja saja kami saling melayangkan pandangan tidak suka.

“Yak, Kyu. Sudahlah, kau tidak usah merecokinya lagi. Dia juga tidak tau kalau nunnamu yang mengambil gambarnya. Sebaiknya kalian berbaikkan saja.” Eunhyuk –si monyet pemakan pisang- adalah teman karib Cho Kyu Hyun. Aku pernah melihatnya sekali ketika ia datang kerumah Kyu Hyun, kemudian ia langsung menyambar tanganku dan menanyakan siapa namaku. Aku yakin sekali kalau dia selalu melakukan hal seperti itu pada setiap wanita.

“Tidak akan.” Ucapku bersamaan dengan Kyuhyun.

“Wah Wah.. Tidak usah sekompak itu, aku tahu kalian punya sifat yang sama, sama-sama bersikap sangat dingin pada orang yang tidak kalian kenal, tapi tidak bisakah kalian berbaikkan sekali ini saja?”

“Kau tidak usah ikut campur Hyuk Jae. Aku juga sudah muak melihat wajahnya. Sudah, kita pergi saja.”

Kyuhyun berbalik arah dan mengarah kearah pintu keluar. Diiringi Eun Hyuk yang membuntut dibelakangnya, benar-benar seperti monyet yang mengikuti tuannya. Aku menghela nafas panjang. Melonggarkan genggamanku dan sedetik kemudian aku baru menyadari kalau handphone remuk si tuan iblis masih berada digenggaman tanganku.

BRUUKK

Aku sukses menubrukan benda rongsokan itu kearah kepala pemiliknya. Sedetik berselang, tak ada respon apapun dari Kyuhyun. Eun Hyuk hanya ternganga lebar melihat tindakanku, terlihat sedikit syok.

“Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” ucap Kyuhyun ketika mendekat kearahku. Aku sedikit terhunyung kebelakang ketika dia dengan galaknya menatapku dengan jarak tak kurang dari sejengkal. Aku masih memaksa menampakan wajah tenang, tapi sepertinya jantungku tidak mau bernegosiasi denganku. Bisa kurasakan sekarang jika degup jantungku semakin kencang berdentum.

“Dengarkan aku-“ Kyuhyun menarik tengukku kasar. Aku semakin tidak bisa mempertahankan wajah tenangku, rasanya aku ingin menganga selebar-lebarnya karena tindakannya. Kyuhyun dengan –sangat amat- tidak berperikemoralan mendekatkan wajahnya dibalik telingaku, tidak menghiraukan puluhan pasang mata tengah mendelik tidak percaya pada kami berdua. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa leherku yang terbuka karena rambutku yang tak kugerai.

“Aku sangat berharap kau bisa bersikap baik terhadapku, karena jika kau masih tidak bisa merubah kelakuan burukmu itu, aku tidak akan segan-segan membeberkan pada semua orang tentang rahasia besar kita, bahwa kita sudah bertunangan Hyo Jin-ya.”

^CHU^

Caffetaria, Seoul International University, South Korea

“Hyo Jin, ayo pulang bersama.”

Aku menggeleng lemah begitu Park Eun Ji, sang anak dosen yang rajin sekali menumpangiku pulang dengan mobil mewahnya itu berniat baik untuk mengatarkanku pulang lagi kali ini.

“Tidak. Terima kasih Eun Ji-ya.” Ucapku tanpa melirik kearahnya. Aku sedang ingin sendirian. Dikantin ini, duduk sendiri dimeja ini. Tidak perlu ditemani siapapun.

“Wae? Kau ada masalah apa lagi dengan Cho Kyuhyun?” ia menarik kursi disebelahku lalu mendudukinya.

Aku menatapnya dengan wajah tidak suka. Tidak bisakah satu orang saja di sekolah ini tidak menyebut namanya didepanku. Setidaknya tidak perlu menyangkut pautkan semua hal tentangku dengan pria itu. Aku benar-benar sudah muak.

“Jangan sebut-sebut namanya lagi dihadapanku. Aku sudah bosan mendengar nama itu. Seperti tidak ada nama lain yang lebih bagus dari nama pria itu.” omelku kemudian menopang dagu dengan kedua tanganku.

“Tapi dia kan tu-“

“Aku bilang berhentilah membahas tentang pria itu. Aku benar-benar muak. Dan satu hal, aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika kau sampai membocorkan tentang rahasia itu Eun Ji-ya.”

Aku sedikit menggebrak meja ketika Eun Ji hampir saja membongkar rahasia itu. Ugh, aku benci sekali dengan kehadiran ayah Eun Ji ketika acara pertunangan kecil-kecilan dirumah Kyuhyuh beberapa hari yang lalu. Aku tidak tahu kalau ayah Kyuhyun juga mengundang Dosen kesayangan Kyuhyun itu keacara pertunangan kami. Dan esoknya, Eun Ji hampir saja mencekikku karena menyembunyikan hubunganku dengan Kyuhyun selama ini. Sejujurnya, semua ini bukan sepenuhnya salahku. Aku tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan Kyuhyun kecuali bahwa kami sudah dijodohkan sejak kecil. Hanya itu. Dan sangat sialnya, aku baru mengetahuinya beberapa hari sebelum acara pertunangan itu. Tepatnya ketika aku baru menginjakakan kaki pertama kali dirumah Kyuhyun.

“Mianhae Hyo Jin-ya. Jangan marah padaku. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku janji tidak akan pernah membocorkannya. Yagsok.”

Eun ji mengangkat jari kelingkingnya. Memasang wajah menyesal yang sangat tidak bisa kuterima karena selalu membuatku luluh.

“yagsok.” Ucapku akhirnya setelah menyematkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya.

^CHU^

Kyuhyun Home’s, Seoul, 07.00 am

 

“Hyo Jin, ayo makan yang banyak. Kau tidak boleh terlihat kurus selama berada disini.”

“Terima kasih omonim. Aku tidak terlalu lapar.” Ucapku hormat pada wanita yang sedang menyodorkan sepiring ayam goreng kehadapanku.

Didepanku, ada wanita paruh baya yang senang sekali tersenyum hanya karena melihatku, dialah ibu Kyuhyun, dia jugalah alasanku terpenjara didalam rumah ini bersama iblis bermuka dua itu. Disebelah ibu Kyuhyun, ada Cho Ahjusi. Ayah Kyuhyun yang mungkin terlihat baik, tapi manurutku, dia bisa terlihat sangat mengerikan jika sedang marah. Disamping kiriku, ada Cho Ahra, nunna Kyuhyun yang punya seribu kesabaran menghadapi kebekuan adiknya itu, dan aku suka padanya, karena dia mengerti bagaimana aku sangat membenci adiknya. Dan disamping kananku, ada iblis itu, duduk tenang sambil menyantap makanannya.

“Hyo Jin, bagaimana dengan kabar ayahmu?”

“Dia sedang berada di Italia. Sedang mengurusi pergantian akta kelahiranku.”

Aku mengaduk-aduk makanan dihadapanku dengan tidak selera, bukan karena tidak menyukai rasa masakannya, tapi karena aku benci harus berdekatan dan terperangkap lebih lama dengan laki-laki disebelahku. Aku bisa merasakan aura pembunuh jika berdekatan sedekat ini dengannya.

“Bagus kalau begitu. Jadi pernikahanmu dengan Kyuhyun bisa dipercepat. Bukan begitu Kyu?”

“Tutup mulutmu Ahra.” Kyuhyun menggeram kearah kakak perempuannya.

Ahra hanya mendengus kesal saat adikknya itu meliriknya dengan isyarat aku akan membunuhmu jika kau bicara lagi. Sejujurnya, aku juga sangat ingin meliriknya dengan tatapan seperti itu, tapi aku tahu jika Kyuhyun akan melakukannya terlebih dahulu.

“Jangan memulai perdebatan saat kita sedang berada dimeja makan. Tunjukan manner kalian didepan tamu kita.” Ucap Cho ahjusi, ayah Kyuhyun.

“Hyo Jin, besok kau tidak ada jadwal kuliah bukan?”

“Tidak ada omonim.”

Semburat senyum mengembang dipipi omma Kyuhyun. Aku merasa ada yang salah dengan ajakannya kali ini. Entah apa itu, tapi aku yakin sekali dia sedang membuat rencana yang tidak enak untukku.

“Kalau begitu, besok temani aku kesuatu tempat. Dan kau Cho Kyuhyun, besok kau juga harus ikut bersamaku.”

“Kenapa aku juga harus ikut?”

Terlihat sekali Kyuhyun sangat keberatan dengan perintah ommanya. Dan sejujurnya, aku juga sangat keberatan dengan hal itu. Itu sama artinya dengan menyiksa diriku sendiri karena aku akan berada dalam radius sangat dekat dengan iblis itu.

“Aku akan menemani kalian memilih baju pengantin besok.”

^CHU^

Kyuhyun Home’s, Seoul, 09.00 am

Balkon rumah Kyuhyun adalah tempat yang paling kusuka dibanding seluruh bagian dirumah ini. Hanya disini seluruh anggota keluarga Kyuhyun tidak akan menggangguku. Dulu mereka selalu bertanya kenapa aku selalu berdiam diri ditempat ini setiap malam, kemudian aku mejawabnya dengan jawaban yang takkan mereka pertanyakan lagi. Aku rindu dengan ibuku. Jawaban itulah yang kulontarkan pada mereka. Sejujurnya, memang itulah salah satu alasanku setiap malam memandangi langit kota Seoul selain karena aku merasa bosan harus berdebat dengan Kyuhyun didalam rumah ini. Seoul adalah kota dimana ibuku dilahirkan, dan kota dimana ibuku meninggalkan dunia ini. Sampai usiaku 5 tahun, aku tidak pernah lagi bertemu dengan ibuku karena perceraian orang tuaku. Ibuku yang awalnya menetap di Italy bersamaku dan ayah, memilih kembali ke Korea untuk dijodohkan oleh kedua orang tuanya tanpa memikirkan kehadiran kami –aku dan ayah- dalam hidupnya. Ayahku terpuruk pada masa-masa awal perpisahannya dengan ibuku. Namun seiring berjalannya waktu, ia kembali bangkit dan berkata padaku bahwa aku adalah salah satu harta yang tidak boleh ia sia-siakan hanya karena seorang wanita yang telah melahirkanku.

Sejak saat itu, aku berusaha menjadi wanita yang teguh. Aku berjanji pada ayah tidak akan menangisi ibuku lagi. Tidak akan mengingat ibuku lagi, dan tidak akan menjawab jika ditanya dimana ibuku berada. Aku hanya akan berkata ibuku sudah meninggal jika orang-orang menanyakan tentang ibuku. Karena memang begitulah kenyataannya. Ibuku sudah mati didalam hatiku, ibuku sudah hilang dalam ingatanku.

Sampai 2 bulan lalu, sebuah berita membuatku hampir melanggar janjiku untuk tidak menangisinya. Ibuku benar-banar meninggal. Aku tidak bisa membayangkan bahwa dia benar-benar sudah tidak ada. Walalupun selama bertahun-tahun aku tidak pernah memikirkannya, toh aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang melahrikanku sudah pergi meniggalkanku sebelum aku sempat melihatnya lagi.

Dan disini. Dikota Seoul ini. Dibawah limpahan bintang-bintang malam yang selalu menemani setiap malamnya, aku berdoa agar ibuku bahagia disana. Walaupun dia sudah membuangku, dia tetap seorang ibu yang telah menjagaku selama 9 bulan didalam kandungannya dan bersusah payah melahirkanku agar dapat melihat bagaimana indahnya dunia.

“sedang apa?”

Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang berdiri bersandar pada tiang pintu balkon. Aku kembali menerawang langit-langit sambil mengeratkan sweater yang kupakai.

“menunggu matahari terbit dimalam hari.” Ucapku enteng.

Ia tertawa sejenak kemudian berdeham. Aku sudah merasakannya berdiri disebelahku ketika detik berikutnya ia sudah membuka suara.

“tidak lucu.”

“tapi kau tertawa bodoh.” Umpatku.

Aku beranjak pergi meninggalkannya sendirian. Tidak ingin bertengkar dengan iblis itu untuk kesekian kalinya.

“bisakah aku membuat suatu penawaran padamu?” ucap Kyuhyun.

Aku berbalik diambang pintu. Menyipitkan mata kearahnya.

“tawaran menarik apa yang bisa kau tawarkan padaku tuan Cho?”

Ia melipat kedua tangannya didada. Sedikit tersenyum diujung bibirnya, dan aku sangat tidak suka dengan senyumannya itu. Jelas sekali terlihat ia sedang merencanakan sesuatu yang sangat tidak enak didengar.

“bagaimana kalau kita berkencan saja?”

Katakanlah aku tuli dan mengalami rusak pendengaran kalau saja Kyuhyun tidak mengatakannya dengan jelas. Aku sangat teramat yakin dengan pendangaranku dan Kyuhyun pun sangat amat mengatakannya dengan kata-kata yang jelas. Tapi, bisakah ini dipercaya? Berkencan? Dengan seorang Kyuhyun? Musuhku?

“jangan bercanda Kyu.” Ucapku sambil tertawa pahit.

“aku tidak bercanda. Atau begini saja, aku akan mengatakannya sekali lagi dengan sedikit lebih berperasaan. Shin Hyo Jin, ayo kita berkencan.”

Aku menatapnya tidak percaya. Mulutku pasti bisa kemasukan seribu lalat kalau saja aku tidak langsung menutupnya. Sedikit salah tingkah dan kebingungan saat air muka Kyuhyun tidak menampakan sebuah kepura-puraan. Aku tidak yakin kalau dia mengatakannya dari hati. Tapi aku juga tidak yakin akan menolak tawarannya. Astaga, otakku pasti benar-benar sudah rusak.

“aku pasti sudah gila jika menerima tawaranmu. Tapi sepertinya aku benar-benar sudah gila hanya dengan mempertimbangkan tawaranmu itu.”

Aku mengusap leherku beberapa kali untuk mengalihkan perhatian. Hampir membuka mulut untuk berbicara kemudian kutahan. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin mengatakan iya untuk berkencan dengan iblis ini. Tapi otakku juga tidak memerintahkanku untuk berkata tidak.

“jadi bagaimana?” tanyanya sekali lagi membuatku tersadar dari pikiranku sendiri.

Aku menggigit lidahku sekuat yang aku bisa. Menahan segala emosi dan rasa malu yang kupunya. Dan ternyata aku sudah benar-benar gila.

“baiklah. Ayo kita berkencan.”

^CHU^

Ciampiona International Airport, Roma, Italy

 

“yoboseo?”

Seorang pria tengah mengunggu keberangkatannya disebuah bandara International Italia. Menenteng beberapa koper dan sebelah tangannya digunakan untuk menempelkan handphone touch screen ditelingannya.

“ne. aku sedang dalam perjalanan pulang ke Korea. Menemui gadis itu.”

Pria yang diketahui berkewarganegaraan Korea itu masih sibuk dengan pembicaraan melalui komunikasi selulernya.

“tentu saja, aku hanya ingin memberikan sedikit kejutan padanya tentang kedatanganku.”

Pria itu sedikit tersenyum karena mengingat rencana kepulangannya ke Negara asalnya adalah untuk sebuah tujuan.

“tidak, aku sudah tidak pernah menghubunginya selama sebulan ini. Dan kudengar dia tinggal dirumah seorang teman ayahnya.”

Ia berdiri, memakai kemeja biru dengan bawahan Jeans hitam yang sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya yang tinggi menjulang. Disertai kaca mata hitam yang membuat penampilannya bak model yang sedang berjalan di catwalk.

“kau bercanda? Tentu saja aku masih mencintainya. Dan kurasa cintaku padanya bertambah banyak seiring berjalannya waktu. Kau tidak perlu mencemaskannya.”

Pria itu semakin tersenyum lebar. Memamerkan senyum malaikatnya yang mungkin dapat membuat seluruh gadis luluh hanya dengan tersenyum seperti itu.

“baiklah. Kukabari jika aku sudah bertemu dengannya.”

Kemudian ia memasukan kembali handphonenya kedalam saku. Berjalan menuju tempat pemberangkatan selanjutnya yang sudah ia tunggu. Pria itu terlihat bersemangat, terlihat sangat bahagia.

“Setelah aku membuat kesalahan yang membuatmu membenciku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karenanya. Aku tidak bisa hidup tanpamu selama aku tidak bersamamu, tidak berada didekatmu, dan tidak bisa mendengar tawa khasmu.”

Pria itu memandangangi wallpaper dihandphonenya dengan sedikit senyum pahit terbingkai diwajahnya.

“aku bersumpah akan membawamu kembali kedalam pelukanku Hyo Jin-ya.”

 

^CHU^

 

Tiffany Botique, Daejeon, South Korea

Aku benar-benar terperangkap dalam musibah. Di butik ini, d iruangan ini, dan di saat-saat seperti ini, terjerat dengan pasangan ibu dan anak yang sepertinya sangat senang melihatku menderita. Ibu Kyuhyun sedang menenteng sebuah gaun berwarna putih tulang ditangannya. Tersenyum gembira dan terus menerus tersenyum sejak tau Kyuhyun mengajakku berkencan dan aku menyetujuinya. Ini semua gara-gara kakak perempuan Kyuhyun, Ahra onnie yang baru kusadari sangat teramat suka menguping pembicaraan orang lain dan tidak bisa menjaga mulutnya ketika dengan santai menceritakan kejadian semalam saat kami semua tengah sarapan pagi ini. Aku sampai tersedak dan sangat susah bernapas karena menahan malu, ingin rasanya aku menyumpal mulutnya itu dengan kaus kakiku yang belum pernah dicuci selama sebulan. Sedangkan Kyuhyun hanya terlihat tidak suka dengan ucapan kakaknya itu, tidak terlihat ekspresi terkejut atau murka sedikitpun diaura wajahnya, ia tenang-tenang saja. Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau rahasia itu sampai diketahui orang lain, cukup sampai keluarga Kyuhyun saja, itu pun sudah membuatku ingin sekali kabur meninggalkan rumahnya.

“Hyo Jin, kau harus mencoba gaun ini. Ini gaun yang paling cocok untukmu.”

Ibu Kyuhyun tersenyum sumringah sambil membujukku. Gaun itu tidak lebih baik dari pada 3 gaun sebelumnya yang sudah kucoba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, ibu Kyuhyun sangat terobsesi padaku, dan yang lebih membuatku jengkel, dia sangat baik padaku, aku tidak bisa menyakiti perasaannya. Aku tidak mau membuatnya kecewa, karena aku sudah mengganggapnya seperti ibuku sendiri, bukan ibu yang menelantarkanku bersama ayah sebagai single parent. Ibu kyuhyun tidak pernah mengungkit-ungkit masalah keluargaku yang begitu runyam, dan dia selalu menyemangatiku untuk selalu melakukan yang terbaik, maka dari itu aku hanya menuruti perkataannya tanpa melawan.  Jika tidak, sudah kubakar gaun-gaun yang sempat menempel ditubuhku itu.

“omma, itu tidak cocok untuk Hyo Jin, terlalu kontras dengan sifatnya yang keras. Tidak cocok untuk seorang gadis yang nantinya hanya akan merusak gaun itu. Gaun itu terlalu indah.”

Aku menatap Kyuhyun dan mendesis kearahnya. Dia hanya tersenyum miring pertanda mengejek.

“aku akan mencobanya omonim.”

^CHU^

Aku tidak tahu apakah aku salah lihat atau memang Kyuhyun terlihat sangat terkejut ketika melihatku keluar dari ruang ganti dengan menggunakan gaun pilihan ommanya. Tapi yang jelas, aku puas sekali ketika melihat setan iblis itu terperangah selama beberapa detik ketika melihatku. Jarang-jarang aku bisa melihatnya menjadi idiot seperti itu.

“Aigo, kau cantik sekali Hyo Jin-ya.” Puji omma Kyuhyun yang kubalas dengan senyum singkat.

Ya, kuakui gaun ini memang cantik, tapi jujur saja, aku tidak yakin gaun ini dapat mengubah penampilanku menjadi lebih baik. Bukan gadis rembes yang hanya memakai baju kemeja, celana jeans, dan sepatu tali tiap harinya. Aku benar-benar tidak merasakan perubahan itu kecuali 2 orang dihadapanku ini.

“lumayan. Setidaknya dia lebih terlihat seperti seorang wanita.” Sahut Kyuhyun.

“Yak. Maksudmu selama ini aku bukan seorang wanita?”

Aku menatapnya geram, benar-benar geram. Oke, aku memang bukan seorang gadis fashionista yang tergila-gila pada mode pakaian dan segala pernak pernik yang memberatkan leher dan tanganku. Aku juga bukan seorang gadis yang rajin menghabiskan waktu ditempat pemotongan rambut serta pengecatan kuku selama berjam-jam. Aku lebih suka berpakaian sesuai keinginanku, berdandan apa adanya dan pergi sesuka hatiku.

Kyuhyun hampir saja membalas perkataanku sebelum sebuah benda berdering keras disaku celananya, handphonenya.

Ia terlihat sedikit aneh ketika melihat siapa yang sedang berusaha menghubunginya. Terlihat seperti.. Syok, dan berusaha menutu-nutupi sesuatu.

“aku keluar sebentar omma.”

Kyuhyun beranjak keluar dengan handphone menempel ditelinganya. Tidak menanggapi sedikitpun teriakan dari ommanya yang menyuruhnya mencoba tuxedo yang sudah dipilihnya.

“Hyo Jin, tolong panggilkan Kyuhyun diluar. Aku ingin dia mencoba tuxedonya telebih dahulu sebelum aku membayar tagihannya.”

“ne omonim.”

Dengan sedikit tidak rela aku mengangkat ekor gaun yang kupakai agar tidak terseret-seret kasar karena hentakan kakiku yang sangat keras. Aku sudah bilang jika aku tidak bisa menolak setiap perintah ibu Kyuhyun, termasuk permintaan tolongnya kali ini. Jika bukan ibu Kyuhyun yang menyuruhku, aku tidak akan –pernah- mau memanggil iblis itu kembali. Biarkan saja dia tidak ada, itu lebih baik dari pada berdebat terus dengannya.

Aku menoleh kekanan dan kekiri begitu keluar dari butik. Mencari keberadaan Kyuhyun yang sepertinya tidak pergi terlalu jauh karena mobil yang dipakainya untuk mengatar kami kesini masih terparkir tidak bergerak didepan butik. Aku melemparkan pandangan geram ketika setiap orang yang melewati etalase butik melihatiku dengan pandangan penuh tanya, tidak sedikit dari mereka yang berbisik-bisik tidak jelas dan memperhatikanku dari atas sampai bawah. Aku tidak melihat ada yang salah denganku? Kecuali gaun yang melekat ditubuhku ini yang membuatku terlihat seperti pengantin yang kabur dari upacara pernikahannya.

“itu dia. Kenapa pergi sejauh itu hanya untuk menerima panggilan? Bodoh.”

Aku menemukan Kyuhyun berdiri sejauh 3 meter dari ujung butik dengan handphone yang masih menempel ditelinganya. Masih terlihat asyik dengan pembicaraannya dengan seseorang diseberang teleponnya.

Aku hampir meneriaki namanya untuk memanggilnya kalau saja aku tidak terkejut saat mendengar sebaris kalimat yang keluar dari mulutnya untuk seseorang yang sedang berbincang dengannya.

“aku minta maaf untuk semuanya Seo Hyun. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa memintamu untuk menungguku lagi. Relakan aku dengan semua keputusan ini. Dan aku selalu mencintaimu, selamanya.”

Aku terdiam, membeku diantara ribuan spekulasi yang berputar-putar didalam kepalaku. Aku –bisa dibilang- sangat terkejut begitu mengetahui ada seseorang didalam hati Kyuhyun yang sangat ia cintai. Dan secara tidak langsung, aku sudah menyakitinya karena sebuah perjodohan konyol antara aku dan Kyuhyun.

oOO> In The Night Kiss <OOo

oOO >First Kiss<OOo

^To Be Continued^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s