Be Good Stranger [6]

Tittle : Be Good Stranger


Author : retnoboo


Genre : horror, romance, angst, au

Rating : G / PG-13

Lenght : Chaptered

Cast :

– Aku (karna saya gak pake nama siapapun)

– find it!

==========================================================================================
“bisa aku bicara denganmu?” aku menoleh dan mendapati seorang lelaki yang amat kukenali tengah berdiri mematung dihadapanku.
“tentu. Bicaralah.” Aku meluruskan badan dan berusaha bersikap senormal mungkin dengannya.
“aku perlu bicara 4 mata. Berdua.”
Aku menaikan sebelah alisku. Setelah berminggu-minggu lamanya aku tak pernah bertegur sapa dengannya, sekarang ia malah berusaha untuk mengajakku berbicara. Sepenting itukah pembicaraannya? Bukankah yang paling penting baginya adalah membicarakan tentang pembalasan dendamnya kepadaku?
“baiklah. Dimana?”
“ikut aku.” Ia menariku dengan menggenggam pergelangan tanganku disaksikan puluhan murid yang tengah memadati kelas. Aku sedikit kaget dan hampir menampakan ekspresi bodohku kalau saja tak banyak suara berisik yang mengganggu pendengaranku. Malahan aku sempat mendengar mereka mengatakan bahwa aku sedang berusaha untuk mendekatinya kembali. Hey, tak lihatkah kalian kalau dia yang menggandengku?
“sekarang, katakan ada apa?” kataku begitu sampai ditempat yang tak asing lagi bagiku.
Ini adalah tempat dimana Se Hun mengakui semua rasa dendam dan untuk pertama kalinya menunjukan sikap tidak sukanya terhadapku. Saat-saat itu adalah saat-saat yang paling tidak bisa kulupakan. Bahkan sampai aku dan dia berbaikan sekalipun.
“ aku hanya ingin membuat suatu pengakuan padamu.”
Ia menatapku intens. Dan aku hampir saja terlena oleh tatapannya itu, jika saja aku tidak mengingat semua perlakuannya padaku selama beberapa minggu belakangan ini.
“katakana saja. Lebih cepat lebih baik.” Ucapku berusaha sesantai mungkin.
Ia menghela napas panjang dan untuk kedua kalinya kembali menatapku dengan tatapan seperti meminta permohonan maaf dariku. Aku memalingkan wajah. Tak sanggup jika terus menerus menatap raut kesedihan diwajahnya.
“kau tahu, sekarang aku sudah tidak mempunyai dendam apapun pada ayahmu. Termasuk kau, aku sudah tak mempunyai niat jahat apapun padamu.”
“aku tahu. jika kau masih mempunyai niat jahat kepadaku, pasti kau akan mencoba lagi untuk membakarku hidup-hidup.”
“maaf untuk peristiwa itu. aku hanya merasa… sangat tidak suka padamu. Aku yang awalnya tidak tahu bahwa kau putri dari seseorang yang telah membunuh ayahku, lambat laun mulai mengetahui identitasmu dan dalam sekejap mata telah melakukan hal kejam dan keji padamu. Aku sungguh minta maaf.”
“hanya maaf? Lalu untuk apa semua perhatianmu padaku selama ini? hanya untuk pembalasan dendam?”
“mungkin awalnya aku melakukan semua itu hanya untuk mencoba masuk kedalam kehidupanmu. Namun lama kelamaan aku mulai merasakan ada sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman jika berada jauh darimu. Aku tak lagi bisa menghilangkan bayanganmu didalam pikiranku. Walau awalnya aku hanya bermanis-manis lidah saat mengatakan aku tak bisa jauh-jauh darimu. Tapi ternyata sekarang kebohonganku itu menjadi kenyataan.
Mungkin aku merasa puas melihatmu menangis mearung-raung setelah aku mengatakan semua motifku mendekatimu selama ini. tapi disaat aku berusaha untuk kembali kedunia asalku. Aku tidak bisa. Aku sudah terikat dengan dunia yang kau buat. Aku tidak bisa nyaman dengan dunia yang kujalani sekarang ini. aku sangat dan amat tidak bisa bersosialisasi dengan para manusia munafik yang kerjanya hanya menampakan topeng mereka didepanku. Aku rindu saat bersamamu yang penuh kejujuran dan kehangatan.
Tidak peduli betapa benci dan murkanya aku pada ayahmu. Tidak peduli betapa dulunya aku sangat ingin melihatmu menderita. Sekarang aku ingin bersamamu. Walaupun kau tak mungkin sepenuhnya percaya pada omonganku. Tapi aku tak mau mengingkari perasaanku lagi. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu.”
Deru napasku seakaan berhenti. Irama jantungkupun serasa berhenti berdetak.
Jauh didasar hatiku, aku sangat ingin percaya pada kata-katanya. Tapi saraf otakku yang sedang berusaha mencerna setiap bait katanya menolak untuk mempercayainya.
“percayalah. Aku tidak akan menyakitimu seperti dulu lagi. Aku mencintaimu.”
Aku diam. Tak tahu harus melakukan apa. Hati dan pikiranku sedang tidak sejalan. Dan tubuhkupun menolak untuk berkompromi dengan kerja otakku.
Sampai pada akhirnya kami mendengar dehaman dari seseorang disekitar kami dan beberapa detik kemudian kami telah memalingkan muka kearah datangnya suara.
“maaf mengganggu. Eh.. tuan Oh Se Hun?” tanya seseorang berseragam lengkap bertulisakan police didadanya sambil menunjuk kearah Se Hun.
“ya benar. Ada apa?”
Kulihat Se Hun mengerutkan ujung alisnya seperti seseorang yang sedang berpikir keras. Aku yakin ia sangat kebingungan sekarang ini. begitu juga aku.
“anda kami tahan atas tuduhan perencanaan pembunuhan. Ini surat penangkapannya.” Seseorang yang dapat kusimpulkan sebagai petugas kepolisian itu  menyodorkan secarik map yang didalamnya terdapat selembar kertas berisi sebuah surat izin penangkapan dari kepolisian dan namaku tertera dibagian bawahnya sebagai korban dari perencanaan pembunuhan tersebut.
“silahkan ikut kami.”
Aku terperangah. Baru saja aku mendadak syok mendengar perkataan Se Hun, dan kini aku sudah dibuat kalang kabut ketika para polisi itu mulai menyeret Se Hun bersama mereka.
“apa kau yang merencanakan ini?” tanya Se Hun disela-sela pemborgolan dirinya dengan dikawal beberapa petugas keamanan.
“ya.. Tapi aku tidak bermaksud-“
“silahkan melakukan kesaksian dipersidangan nanti. Kami harus membawanya untuk diintrogasi.” Sergah petugas kepolisian itu ketika memotong pembicaraanku. Dengan seenaknya petugas polisi itu langsung menyeret Se Hun bersama dengan hilangnya rasa benci dan sakit hatiku pada Se Hun.
=====================================================================================
“kau sedang apa?”
“tidak sedang apa-apa bu.” Jawabku singkat.
Aku duduk ditepi ranjang. Menengadahkan kepala menghadap jendela kamar. Ibuku yang secara tiba-tiba sudah berada disampingku hanya menatap nanar kepadaku. Sudah 2 bulan sejak penangkapan Se Hun dan aku tak lagi mengetahui bagaimana kabarnya. Aku tak mau pergi kekantor polisi untuk menjenguknya karna aku takut ia akan semakin marah padaku. Aku juga tak berani untuk datang kerumahnya dan meminta maaf kepada keluarganya atas segala tindakan dan perbuatan ayahku dimasa lalunya.
“kau tak datang kepengadilan hari ini?”
“tidak bu. Aku takut.”
Aku membenamkan kedua wajahku dibalik lutut.
“bersembunyi tidak akan membuatmu merasa nyaman sayang.”
Ibuku membelai rambutku lembut. Ia mengerti perasaanku. Ia juga tahu bagaimana situasi dan kondisiku saat ini.
Hari ini adalah hari dimana sidang terakhir yang mengagendakan penetapan hukuman yang akan dijatuhkan kepada Se Hun. Setelah hari penangkapan Se Hun, aku tak mau dan tak pernah lagi berurusan dengan polisi. Aku tak pernah hadir dalam sidang dan selalu mengurung diri dikamar jika telah tiba hari pelaksanaan sidang. Aku terlalu takut untuk mengetahui kenyataan bahwa akulah yang menyebabkan orang yang kucintai menderita.
“aku dirumah saja.” Ucapku lalu bersembunyi dibalik selimut pertanda aku tak ingin lagi berbincang-bincang dengan ibuku. Cukup untuk hari ini. aku tak ingin nasehat ibuku menjadi suatu sugesti yang membuatku merubah keputusanku.
“baiklah. Ibu menghargai semua keputusanmu sayang.”
Aku mendengar derap langkah kaki ibuku ketika ia keluar melewati pintu. Tak lama sesudahnya, ia menutup pintu dengan pelan meninggalkanku yang masih mengurung diri dibalik selimut.
=====================================================================================
Aku duduk bersila dipekarangan rumah sambil mencabuti mahkota bunga-bunga ibuku. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan kecuali makan, tidur, mandi dan malakukan hal-hal bodoh lainnya termasuk mencabuti rumput-rumput pekarangan. Aku tak masuk sekolah selama kurang lebih 3 bulan dan hebatnya aku tetap lulus. Entah siapa yang telah berbaik hati sehingga rela memberikanku nilai pas-pasan agar aku tak tinggal kelas.
Karena kelulusanku, aku tak lagi mempunyai aktifvitas lain kecuali beridam diri dirumah dan selalu menyanyikan lagu-lagu lawas jika sedang bosan. Ayahku yang semula berniat memasukanku kesalah satu universitas ternamapun, lama-lama lelah menungguiku yang tak kunjung bersemangat untuk bersekolah kembali.
Aku lebih suka berada sendirian dirumah ketimbang bertemu dengan orang-orang baru yang nantinya akan mengejekku aneh dan menjauhiku sama seperti dulu.
“ada yang mencarimu sayang.”
Lamunanku buyar ketika ibuku mengagetkanku dengan suara seriosanya dan dengan secepat kilat telah menghilang dari hadapanku.
Aku mengerutkan kening. Tidak biasanya ada orang yang datang mencariku kecuali orang-orang iseng yang sengaja mencariku hanya untuk melihat keanehanku.
Aku berjalan menuju teras dan mendapati seorang wanita tengah berdiri membelakangiku. Aku sama sekali tidak mengenali orang ini. awalnya kupikir ia adalah kenalan dari ibuku, tapi mengingat apa yang dikatakan oleh ibuku bahwa orang ini tengah mencariku, jadi rasanya tidak mungkin jika ia adalah kenalan ibuku.
“maaf. Ada perlu apa?”
Wanita itu segera berbalik ketika mendengar pertanyaanku dan seketika itu pula lah aku kaget bukan kepalang ketika menyadari paras wajah wanita itu adalah paras wajah yang tak asing lagi bagiku.
“perkenalkan. Aku ibu dari Oh Se Hun.”
Ia mengulurkan tangan dan aku membalasnya dengan tangan gemetar. aku mulai was-was ketika ia mulai tersenyum penuh arti kepadaku. Aku takut jika kedatangannya ini hanya untuk memarahiku.
“kau tidak mempersilahkanku duduk? Atau kita harus berbicara sambil berdiri?” tanyanya dengan sedikit nada menyindir. Aku tersadar dan secepat kilat langsung menawarinya duduk disebuah kursi panjang tanpa meja.
“silahkan duduk. Eh.. maaf, aku hanya sedikit syok.”
“tidak apa-apa. Aku kesini hanya untuk mengantarkan sesuatu.”
Ia merogoh sesuatu didalam tasnya dan kemudian mengeluarkan secarik amplop berwarna merah. Aku bingung sendiri melihatnya. Dan rasa-rasanya aku juga tak pernah melihat amplop tersebut.
“ini dari Se Hun. Dia memintaku untuk mengantarkan surat ini untukmu.”
Seketika itu juga aku langsung merasakan jantungku berdetak cepat seperti ingin keluar dari tempatnya. Perasaanku campur aduk antara rasa bahagia, takut, dan sedih ketika dengan sadarnya aku menerima surat itu.
“bacalah. Mungkin saja ada hal penting yang perlu ia sampaikan kepadamu.”
“terima kasih bibi.” Ucapku tulus ketika ia mulai berdiri dan bersiap pergi.
“selamat siang. Maaf mengganggumu hanya untuk hal seperti ini.”
Ia menundukan badannya lalu pergi meninggalkan rumahku.
Aku yang sudah tak sabar dan tak bisa sabar dengan kasar membuka amplop itu dan membaca isi suratnya. Tak perlu waktu lama bagiku untuk meneteskan air mata ketika membacanya. Karna semua yang Se Hun tulis dalam suratnya adalah semua perasaan yang selama ini kusimpan pada dirinya.
hai.
Mungkin setelah ini aku tidak akan bisa lagi bertemu denganmu. Dan mungkin setelah ini kau akan melupakanku karna semua kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu. Aku hanya ingin meminta maaf untuk yang terakhir kalinya dan aku hanya ingin kau hidup sehat dan bahagia setelah aku tak bisa lagi melihatmu. Ini bukan sebuah tulisan konyol dan tidak beretika yang pertama kalinya kubuat. Sebelumnya aku telah membuat berlembar-lembar tulisan tak penting lainnya dibalik semua buku tulismu. Kau bisa membacanya kalau kau mau. Tapi jangan tertawakan kata-kataku, karna aku menulisnya dengan sungguh-sungguh.
Kau ingat saat aku menggandeng tanganmu dan seluruh anak disekolah menatap sinis kepadamu. Aku yakin mereka pasti sangat iri melihatmu bahagia pada saat itu. aku sengaja membawamu kemanapun aku pergi agar tak ada satu orangpun yang akan menyakiti dan mengejekmu. Dan saat aku mengatakan bahwa aku hanya mempermainkanmu untuk membalaskan dendamku, disaat itu aku juga sangat ingin mengatakan bahwa aku  sangat mencintai dan menyayangimu lebih dari rasa dendamku terhadap ayahmu.
 
Mungkin untuk saat ini kau tak bisa dan tidak akan mau mempercayai dan meyakini kata-kataku. Tapi percayalah, aku akan sangat bahagia jika melihatmu bahagia, walaupun bukan denganku. Aku akan  mendukung semua keputusanmu. Termasuk menyerahkan diriku kepolisi, karna semua ini memang kesalahanku, dan untuk itu aku minta maaf. Semoga kita bertemu dilain kesempatan dengan suasana dan keadaan yang lebih baik. Jaga dirimu dan tetaplah bahagia.
Dari seseorang yang mencintaimu,
Se Hun
Aku menangis. Aku terisak dan tak dapat membendung air mataku begitu membaca tulisan terakhir Se Hun.
Tanpa basa basi aku langsung pergi dan mengurung diri dikamar. Aku seperti orang gila ketika mencari-cari tumpukan buku tulisku dan melihat berbagai macam tulisan Se Hun dibelakangnya. Air mataku terus jatuh, tak dapat ditahan dan dihentikan.
Aku membaca semua tulisan itu. tulisan tangan dari seorang pria yang mungkin kini juga sedang bersedih karenaku.
to be continued… 
=__Love Is Pain__=
=__I Hate Them Damn Love Songs__=

=__Momento Of Ours__=
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s