I Hope it’s You – [Chapter 1]

Gambar

Author  : Wie_SuSHInXo

Tittle     : I Hope it’s You

Genre    : Romance, Family, Friendship (Kisah tentang perpaduan dua Negara : Indonesia-Korea)

Rating   : PG-15

Length  : ?

Cast       :

  • Kim Min Gi / Giya (OCs)
  • Choi MinHo (SHINee)
  • Choi Ki Ho a.k.a Kay (Anggap ini kembarannya MinHo)

Other cast : Temukan sendiri ! sewaktu-waktu bisa berubah…J

Attention : Cerita ini hanya fiktif belaka, murni hasil pikiran saya sendiri, bergadang setiap hari    hanya untuk menemukan ide ceritaaa #Streeesssss !!! 😛 = Apabila ada kemiripan nama, cerita atau sebagainya, saya minta maaf, karena ini kata-kata hapalan dari otak saya yang kebetulan tiba-tiba keluar saat membuat cerita ini…Semoga readers sukaa.. khamsa…:D

♪♪*♪♪

Kau memberikan angan yang terlalu tinggi untuk ku raih, kau memberikan kasih yang tak mungkin sepenuhnya milikku, Apakah salah jika aku berharap lebih ???

♪♪*♪♪

“Giya !! Bangun ! hari ini hari kelulusan kamu kan ?” Suara berat milik seorang ayah itu berhasil membuat mata gadis muda yang sedang asyiknya menaungi beberapa pulau itu terbuka, ia mengerjapkan matanya dengan malas, seakan ada lem perekat yang merekatkan kedua kelopak matanya, roh gadis itu belum sepenuhnya kembali kedalam raganya, saat benar-benar yakin roh itu telah kembali menyatu dengan raga yang masih tertidur lesu, segeralah ia membelalakkan mata besarnya dan terduduk. Astaga ! sudah jam berapa sekarang ? aku bisa terlambat ! ini hari pentingku, oh dear ! gerutunya. Mengakhiri masa SMA___Sekolah Menengah Atas___ dan mempersiapkan diri untuk dunia perkuliahan, dan Giya tidak ingin meninggalkan moment ini.

“Ya ampun Appa1 ! jam berapa sekarang ?” tanyanya gugup. Ia memanggil ayahnya dengan sebutan Appa karena gadis itu terlahir dari dua Negara. Yaitu Indonesia dan Korea. Ayahnya berasal dari Indonesia, Indra Anggara. Dan ibunya berasal dari Korea, Kim Hyo-Jin. Menurutnya, panggilan appa terkesan lebih unik. Tapi terkadang ia juga memanggil lelaki separuh baya itu dengan sebutan ayah, tergantung mood. Giya memiliki nama Korea, Kim Min Gi, dan nama Indonesia, Giya Anggara, setidaknya begitulah mereka __sanak saudara__ nya yang di Indonesia memanggilnya.

Dari kecil Giya sudah tinggal di Indonesia, mengingat ayah yang notabenenya bekerja sebagai DuBes, jadi selalu berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya ia di tugaskan di Korea, dan bertemu dengan ibu gadis itu, merekapun menikah dan memiliki dua orang anak, yaitu Kim Min-Gi dan saudara laki-laki yang sangat tampan menurutnya dan kebanyakan orang berkata dia memang tampan, memiliki wajah tirus, putih, tinggi dan memiliki otak yang sangat encer adalah idaman semua wanita apalagi mengingat dia adalah jebolan Kedokteran Harvard University dan sekarang ia bekerja di Amerika, dialah Kim JungMyun atau biasa di panggil dengan nama Suho. Dan beberapa tahun setelahnya ayah Giya kembali di tugaskan ke negara tercintanya, Indonesia. Mereka pun terpisah, tapi tetap tak memutuskan keharmonisan diantara keluarganya. Kim Hyo-Jin tetap berada di Korea bersama Suho, dan Giya tinggal di Indonesia bersama ayahnya, saat liburanlah menjadi moment yang paling di tunggu-tunggu keluarga tersebut, karena kalau bukan Giya dan ayahnya yang pergi ke Korea, Kim Hyo-Jin dan Suho lah yang akan berkunjung ke Indonesia.

Masalah komunikasi antara mereka ? tidak perlu dipusingkan, karena walau pun Giya tinggal dan besar di Indonesia, dia tetap fasih berbahasa Korea, apa guna nya ada khursus ? kalau tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Jadi, saat gadis itu berkomunikasi dengan ibu dan kakaknya, ia selalu menggunakan bahasa hanguk itu. Tapi bukan berarti juga mereka tidak mengerti bahasa Indonesia, mereka mengerti hanya belum fasih.

“Tenang Giya, jangan panik ! sekarang baru jam setengah enam, ayah hanya ingin kau bangun pagi-pagi, agar bisa lebih santai menyiapkan semuanya, jadi tidak perlu teburu-buru.” Indra yang duduk disamping ranjang gadis itu tersenyum memaklumi tingkah laku anak bungsunya. Ia menyodorkan telephone genggam pada Giya yang sedang mendesah lega dan tanpa hentinya menguap.

Giya menatap ayahnya heran, untuk apa ayahnya memberikan telephone itu padanya disaat pagi buta seperti ini.

Seakan tau apa yang ada dipikiran anaknya, ia segera melanjutkan. “Dari Eomma2, dia rindu padamu.” Indra menatap Giya lembut. Dengan wajah yang berseri-seri menahan kerinduan yang teramat dalam gadis itu mengambil telephone genggam dari tangan ayahnya dan  tak ingin orang yang berada diseberang sana menunggu terlalu lama.

Eomma !!! Nan Boghosippoyo3!!” Gadis itu berteriak penuh kegembiraan, Indra yang sedang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Giya tau, ayah juga sangat merindukan ibunya. Dan setelah kelulusan ini, dia berniat melanjutkan kuliah di Korea. Belum tau dimana, tapi yang pasti gadis itu sudah mengikuti jalur prestasi di Seoul National University, itulah impiannya, dan ia sangat berharap bisa menembus dinding tebal di Universitas itu.

Nado chagi4, Eomma juga merindukanmu. Eouthoke5 ? hari ini kamu kelulusan kan ? semoga mendapatkan nilai yang terbaik ya sayang.” Suara mama yang lembut selalu bisa membuat hati gadis blasteran Korea-Indonesia itu merasa tenang, walaupun ibunya berada nan jauh disana, ia tetap bisa merasakan belaian kasih yang terpancar dari setiap nada yang mengalun indah dari bibir Kim Hyo-Jin.

Nde eomma, hari ini aku akan melihat hasil nilaiku selama aku belajar 3 tahun di SMA, semoga kerja kerasku memutar otak selama ini tidak sia-sia. Khamsahamnida6atas doanya eomma.”

“Iya sayang, eomma selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Yasudah, bersiap-siaplah, jangan sampai terlambat di hari yang spesial, eomma ingin bicara dengan appamu. Good luck ya chagi.” Giya tersenyum mendengarnya. “Oke eomma. Love you.” Ia yakin ibunya juga tersenyum diseberang sana, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan indah. Giya sangat merindukan senyuman itu, sudah setahun ia tidak melihat ibunya secara langsung. Biasanya mereka bertatap muka hanya melalui video call saja, dan itu sungguh membuat gadis itu tidak puas. Ia selalu merasa ingin berlari dan jatuh dalam pelukan seorang ibu, merasakan hangatnya dalam dekapan kasih sayangnya.

Giya memberikan telephone itu kepada ayahnya, dan ber-pantonim ria di depan Indra, memberikan isyarat padanya bahwa –aku- akan- segera- bersiap-siap. Ia hanya mengangguk menanggapi dan berlalu pergi tapi sebelum itu ia mengisyaratkan bahwa setelah bersiap-siap Giya harus segera menyusulnya di ruang makan, untuk sarapan.

∞*∞

Seorang gadis dengan rambut ikalnya yang panjang tergerai disepanjang punggungnya menutupi bahunya. Kaki jenjang dan putihnya yang terbalut kaus kaki putih sampai ke lutut membuatnya terlihat cantik dan rapi. Kini gadis itu menatap dirinya didepan cermin besar yang berada tepat dihadapannya. Ia hanya perlu sedikit memoleskan bedak dan menambahkan lipgloss strawberry kesayangannya, dan semua clear. Ia pun tersenyum simpul.

“Selesai. Dan kyeopta7.”  Segera ia berbalik mengambil tas dan melangkah pergi. Tapi sebelum  tangannya  sampai untuk memutar knop pintu, handphonennya berdering. Gadis itu segera berbalik dan melihat handphone genggamnya yang tergeletak dimeja rias. Secepat mungkin ia berjalan untuk mengangkat telepon tersebut sebelum sambungannya terputus, dan betapa senangnya ia saat melihat nama orang yang tertera dilayar handphone genggamnya  itu. Suho Oppa8^^.

Oppa ! Bogoshipoyo. Kapan kau akan mengunjungiku ? Berliburlah sedikit oppa, kerjaanmu terlalu banyak menguras waktu dan tenagamu.” Cibir gadis itu. Sementara orang yang dicibirin hanya tersenyum mendengar suara adik tersayang yang sudah sangat lama tidak dilihatnya ini. Keningnya bertaut mendengar ocehan gadis yang bernama Kim Min Gi itu. Ternyata, masih saja tetap cerewet, tidak berubah. Pikirnya. Tersungging seulas senyuman menghiasi bibirnya.

“Ya ampun, kenapa adikku ini cerewet sekali sih. Arraseo9, oppa tau kau sangat merindukan oppa, dan oppa juga begitu. Beginilah menjadi dokter, harus siap kapan dan dimanapun, kerjaan oppa sangat menuntut oppa untuk membantu sesama, dan mereka juga membutuhkan bantuan oppa.” Terang lelaki itu memberikan pengertian kepada adik bungsunya ini. Ia hanya diam menunggu respon dari gadis itu.

“Yah oppa, arraseo. Oya oppa, hari ini aku pengumuman kelulusan sekolah, doakan ya,” gadis itu lalu duduk dengan rapi di tepi ranjangnya. Ia memilin-milin rambut panjangnya, yang telah lama menjadi salah satu kebiasaannya.

Oppa tau, dan untuk itu oppa punya kejutan untukmu.” Lelaki itu berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “tapi dengan satu syarat tentunya.” Ia tersenyum mendengar desahan dari Min Gi. Gadis itu sudah menduga sebelumnya. Pasti semua harus dengan syarat.

“Tidak bisakah oppa memberikan kejutan itu dengan lapang dada ?”

“Sayangnya tidak bisa Min Gi-yaa10, dan oppa yakin kau bisa mendapatkannya.”

“Hmm, baiklah, sekarang apa syaratnya ?” mau tak mau gadis itu penasaran juga. Berharap kejutan besar yang akan  diberikan oleh kakaknya.

“Jika kau berhasil mendapatkan peringkat pertama, maka oppa akan mengorbankan kerjaan oppa disini dan pergi berlibur bersama mu ? eoutokhe ?” Lelaki itu tersenyum saat mendengar kehebohan dari Min Gi. Dan ia tidak main-main dengan ucapannya. Ia memang serius ingin mengajak adiknya itu berlibur hanya untuk menghilangkan penat walaupun adiknya tidak mendapatkan peringkat satu nantinya, ia akan tetap memenuhi janjinya itu. karena ini memang hadiah kelulusan untuk Min Gi.

“Hah ? Jinjja11 ? oppa tidak sedang bergurau kan ?” pekik gadis itu mendengar ucapan kakaknya barusan. Ia sungguh tak menyangka kakaknya akan sebaik ini. Memang sih, dia selalu baik, tapi sungguh Min Gi tidak menyangka bahwa kakaknya akan benar-benar merelakan beberapa hari yang nanti akan menyita waktu dan kerjaan yang sangat digemarinya itu.

“Tapi oppa, bagaiman jika aku tidak mendapatkan posisi pertama itu ?” kini nada gadis itu berubah sendu. Tak bersemangat. Kontras sekali dengan nadanya beberapa detik yang lalu.

“Kita lihat saja nanti. Baiklah dongsaeng12-ku yang manis, bersiap-siaplah untuk menjemput posisi pertamamu, kau tentunya tak ingin terlambatkan ?”

“Hmm, arraseo. Nanti aku akan kabari hasilnya. Khamsa oppa.” Sambungan pun terputus. Gadis itu tersenyum, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar dengan berjuta semangat yang timbul dalam dirinya, mendorongnya agar selalu tetap optimis atas apapun hasil yang akan dia dapatkan nantinya.

∞*∞

Seorang gadis berjalan dengan perlahan menyusuri lapangan sekolah yang lumayan ramai itu. Beberapa pasang mata—gadis atau pun lelaki—menatapnya dengan antusias. Bukan tatapan kebencian melainkan tatapan yang sarat akan kekaguman. Terdengar juga dari beberapa gadis lain yang menatapnya sembari berbisik-bisik iri akan gadis itu. Wajahnya yang bisa menawan setiap lelaki itu menunjukkan senyumnya yang termanis hingga membuat mata gadis itu menyipit membentuk bulan sabit. Ia membenahi poninya yang sesekali tertiup angin sembari tetap melenggang.

“Giyaa !!!” teriak seseorang dengan suara lantangnya. Gadis yang sedang di tatap oleh banyak pasang mata itu kini menoleh merasa namanya terpanggil. Ia tersenyum semakin lebar dan melambaikan tangannya pada gadis berambut pendek yang memanggilnya itu. Gadis itu berlari kecil menghampirinya dan berjalan beriringan.

“Hai !! bagaimana kabarmu pagi ini Len ?” tanya Giya dengan senyum yang masih setia merekah diwajah cantiknya. Ia menoleh menatap gadis yang tepat berdiri disampingnya ini, sedikit melihat kebawah karena posisi tubuh Giya yang lebih tinggi beberapa senti meter dari tubuh gadis berambut pendek itu.

“Selalu baik, Giya. Seperti yang bisa kau lihat sekarang. Hei ! semua mata memperhatikanmu, kau tau ? apalagi para lelaki. Aku rasa sebentar lagi mata mereka akan keluar dari kelopaknya.” Ujar Leane sembari mengerucutkan bibirnya.

“Biarkan saja mereka, itu bukan mau ku, Len. Mereka saja yang selalu memperhatikanku.”

Gadis yang menjadi pusat semua orang itu hanya berjalan santai menuju kelasnya, menaruh tasnya di meja, dan segera duduk dibangku kesayangannya yang terletak didekat jendela. Leane segera duduk disampingnya.

“Kau terlalu cuek Giyaa. Lihat saja, sampai sekarang tidak ada yang berani mendekatimu secara langsung, pasti selalu melewatiku. Mereka hanya berani menatapmu dan tidak lebih dari itu. terkadang, aku kasihan juga pada mereka yang selalu kau tolak mentah-mentah.” Giya hanya mendengarkan apa yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.

Sementara Leane, ia hanya tersenyum geli mengingat sahabat satunya ini sangat populer terlebih-lebih di kalangan lelaki. Tak ada satupun lelaki yang akan melewatkannya. Dan juga tak ada lelaki di sekolahnya __SMA MELATI JAKARTA__ yang tak mengetahui seorang Giya Anggara yang terkenal akan kecantikannya, perpaduan wajah khas Indonesia dari ayah dan wajah mulus khas Korea dari ibunya membuat wajahnya terlihat sempurna, matanya yang bulat indah menyatu dengan keindahan bulu mata lebatnya, dan juga kulitnya yang putih bersih tanpa meninggalkan goresan sedikitpun. Ia juga terkenal akan kebaikan, kepintaran dan keramahannya. Berlebihan mungkin, tapi memang itulah Giyaa Anggara atau Kim Min Gi.

Leane selaku teman terbaik—atau sahabatnya sudah tau seluk beluk tentang Giya bahkan segala tingkah Giya yang tak diketahui orang banyak.

Seperti…Giyaa yang terkadang sangat cerewet. Giyaa yang terkadang mengomel tak karuan saat ia sedang benar-benar kesal. Ia yang terkadang makan dengan sangat rakus disamping tubuhnya yang ramping itu. Giya yang terkadang berusaha untuk tegar, padahal sebenarnya rapuh karena menyimapn masalahnya sendiri, Giya yang benar-benar marah, akan dengan mudah mengeluarkan airmata. Tapi satu yang membuat teman karibnya itu tak mengerti, sampai sekarang Giya tak pernah melirik satupun lelaki yang sudah mengaguminya. Ia tak pernah tertarik sama sekali dan seperti tak peduli. Ia seakan hanya peduli dengan dunianya sendiri.

“Mereka sering sekali bertanya padaku, ‘Kamu Leane temannya Giya ya ? apa benar dia itu keturunan Korea ? pantesan cantik. Tolong sampaikan padanya, aku menyukainya. Rasanya saat itu ingin sekali aku berkata begini pada mereka semua, “Kenapa tidak kau sampaikan saja sendiri ? Giya tidak suka dengan orang yang penakut !” Gadis berambut pendek itu menirukan nada bicara lelaki itu. sesekali ia juga menghempaskan tangannya di udara, menandakan bahwa dirinya sangat kesal. Giyaa yang menyaksikan celotehan Leane yang menggebu-gebu hanya bisa tersenyum dan merasa tak enak, bahwa karena dirinya, sahabatnya itu selalu dalam kesusahan.

“Maafkan aku Len, lain kali, cuekin saja mereka dan langsung saja pergi. Tak ada gunanya meladeni.” Leane hanya mengangguk mengiyakan. Giya terdiam sejenak memikirkan tentang pengumuman kelulusan ini. Lama sekali belum ada kabar dari kepala sekolah. Ia sudah sangat gugup sekarang.

“O ya Giya, by the way soal Korea, kapan kau akan kesana ? jadi untuk kuliah disana ?” ia menopangkan tangannya dibawah dagu. Menunggu jawaban yang akan terlontar dari bibir gadis yang sedang ditatapnya itu.

“Soal itu, aku belum tau tepatnya kapan akan kesana, yang pasti sekarang aku sedang menunggu hasil pengumuman jalur prestasi yang kemarin aku ikuti.”

“Di universitas apa ?”

“Seoul National University” terlihat jelas sorot kekaguman diwajah Leane. Gadis itu mengangguk.

“Fakultas apa ?” tanyanya kemudian.

“Fakultas tekhnik, arsitektur.”

“Wah, hebat ! aku yakin kau akan diterima Giya. Kau pintar dan selalu berprestasi. Tidak ada alasan mereka untuk menolakmu.”

“Kau terlalu memujiku Len, lalu kau sendiri ? kuliah dimana ?” kelas mulai ramai. Banyak bangku yang kosong sedari tadi sudah diisi oleh para penghuninya. Di pojok kanan belakang, banyak para wanita berkumpul disana, sekilas Giya memperhatikan mereka dan sedikit mencuri dengar apa yang telah mereka bicarakan. Ternyata, soal fashion. Gadis itu mendesah bosan. Dia melirik lagi ke arah pintu dan mendapati sekelompok pria yang bercerita heboh. Mereka ini pria atau wanita sih, senang sekali bergosip. Ia mendengus sesaat, dan segera focus lagi dengan Len, yang sekarang duduk tepat disampingnya.

“Hmm… mungkin tetap stay di Jakarta. Aku ingin mencoba di UI. Semoga saja aku bisa diterima disana.” Leane berpikir sejenak, dan Giya yang mendengar hanya mengangguk-angguk kan kepala, seakan berucap, -aku-yakin-kau-bisa-diterima-disana-  lalu gadis berambut pendek itu kembali berucap. “Yah, kita pisah dong, awas saja ya jika kau sombong dan tidak pernah menghubungiku. Dan kapan-kapan kalau aku main kesana, kau harus menjemput dan ajak aku berkeliling di Negeri Ginseng itu. dan tentunya jangan lupa ajak aku ke pulau jeju. Oke ?”

“Aku pasti akan menghubungimu jika aku tidak sibuk, oke ? dan kalau kau kesana, aku pastikan, kau akan aku bawa berkeliling kota Seoul yang penuh dengan keindahan. Tenang saja.” Ujar Giya dan ditanggapi Leane dengan antusias, mereka pun larut dalam perbincangan, mengenang masa-masa di SMA.  Sesekali mereka mendengus kesal karena membicarakan sesuatu yang sangat menyebalkan, contoh kecilnya seperti mendapatkan hukuman dari guru yang terkenal killer, dan sesekali mereka juga tertawa terbahak-bahak ketika mengingat pengalaman yang sangat memalukan. Waktu terus berjalan dan segera terdengar suara lantang Kepala Sekolah melalui microphone yang membahana di seluruh penjuru sekolah.

“Pengumuman, bagi siswa kelas 12 diharapkan sekarang juga segera berkumpul di aula sekolah, karena pengumuman hasil UAN akan segera di umumkan. Terima kasih.” Murid-murid khususnya kelas 12, yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan masing-masing segera menghentikan aktifitas mereka, dan dengan perasaan gugup yang luar biasa gugupnya, merekapun berjalan menuju Aula yang terletak dibelakang sekolah.

∞*∞

“AYAH !!! AKU BERHASIL MENDAPATKAN PERINGKAT PERTAMA !!!” Teriakan Min Gi berhasil  mengagetkan seluruh penghuni rumah, ia segera mencari-cari dimana posisi ayahnya sekarang berada. Semua tempat telah didatanginya, ruang tamu, dapur, kamar ayahnya, tapi tak kunjung juga ia menemukan sang ayah, tempat terakhir yang akan di kunjunginya adalah taman yang terletak dibelakang rumah, dan benar saja, ayahnya sedang asyik bertengger disana, menggunakan kacamata dan melebarkan surat kabar didepan wajahnya, ia terlalu focus membaca sampai-sampai suara anaknya yang berteriak lantang tak kunjung didengarkannya. Min Gi segera berlari menghampiri sang ayah dan menunjukkan sebuah lembaran kertas yang telah tercantum berbagai kata disana, yang seperti diketahui itu adalah sebuah sertifikat. Indra Anggara melirik sedikit dibalik kacamata itu dan melihat kearah putrinya lalu segera mengambil­­___ sertifikat ___ yang telah disodori Min Gi. Ia mulai membaca, dan bisa terlihat sorot mata dan ekspresi yang berubah menjadi sebuah kekaguman dan kebahagiaan.

“Kau berhasil nak, ayah bangga padamu. SMA-mu sudah clear, dan sekarang tinggal menunggu lagi hasil pengumuman di SNU itu. Sebentar  ya, ayah akan menelpon eomma mu, dia pasti sangat bangga. Dan jangan lupa, kau hubungi juga oppa mu.” Indra mencium puncak kepala putrinya dan segera berlalu dengan senyum yang terus merekah dibibirnya. Min Gi yang menyaksikan itu sangat senang dan sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan kebahagiaan ini. Gadis itu sesegera mungkin menaiki setiap anak tangga dan ingin cepat-cepat sampai dikamarnya, mengambil handphone dan segera menghubungi oppanya.

Terdengar nada panggilan tunggu diseberang sana. Kenapa lama sekali sih jawabnya oppa, apakah dia sedang sibuk. Kening gadis itu bertaut, kaki nya dihentakkannya dilantai, menunggu adalah hal yang sangat tidak disukainya.

“Yeoboseyo13, Min Gi-yaa… eoutokhe ? kau menghubungi oppa ingin memberitahukan kabar baik atau buruk tentang nilaimu ?” suara Suho sangat antusias menunggu jawaban dari adiknya.

“Oppa, mianhae14… aku belum berhasil mencapai posisi satu itu. ku harap kau tidak kecewa.” Kini suara gadis itu terdengar sedih. Min Gi segera duduk di atas ranjangnya dan melihat sertifikat yang sedari tadi di pegangnya. Lalu tersenyum jahil.

Suho yang mendengarkan perkataan Min Gi turut merasakan kesedihan adiknya, ia tau Min Gi sekarang pasti sangat terpukul. Dia sangat mengenali perangai Min Gi, gadis itu sangat tidak suka jika harus mengecewakan keluarganya, dia selalu mencoba yang terbaik utnuk membuat keluarganya bahagia. Ia selalu berusaha menuruti apapun yang akan dikatakan kedua orangtuanya, lelaki itu memang, hemm, bisa dikatakan sedikit kecewa, tapi kali ini dia tidak ingin memperdengarkan nada kekecewaan dari suaranya, takut kalau itu akan membuat adiknya bertambah sedih.

Sementara itu, gadis berambut panjang yang sedang berbicara dengan kakak lelakinya itu hanya bisa menahan tawa menunggu tanggapan dari Suho tentang kabar yang ia bawa hari ini, dia tau saudaranya itu berusaha untuk tidak memberikan respon yang nantinya akan membuatnya semakin sedih. Rasanya ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak mengingat kakaknya yang sedang dikerjainnya ini.

Pintu kamar Min Gi terbuka lebar, ia lupa menguncinya saat ingin cepat-cepat menghubungi Suho. Min Gi yang hanya focus menunggu jawaban kakaknya itu tidak mendengar bahwa ada derap langkah yang sedang berjalan mendekat menuju  kamarnya.

“Giyaa, eomma mu senang sekali saat mendengar kau mendapatkan peringkat satu Ujian Nasional. Sebentar eomma menelphone, ia sedang berada dirumah temannya sekarang” Suara ayahnya yang sangat besar itu berhasil membuat Min Gi terkaget, dan dengan cepat ia meletakkan tangan telunjuknya didepan bibirnya, memberikan isyarat agar ayahnya untuk diam. Ya ampun ayah, Suho bisa mendengarkan semuanya. Bisiknya dalam hati. Kini ia hanya bisa berharap kakaknya tidak mendengar apap pun. Tapi mustahil sekali lelaki itu tidak mendengar suara besar milik ayahnya ini. Kecuali kalau telinga Suho mengalami gangguan pendengaran. Dan ia berharap andaikan saat ini memang terjadi seperti itu.

“Itu suara appa kan Min Gi-yaa, dan…” Suho terdiam sejenak. Mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan perkatannya lagi. “kau mengerjai oppa mu ???? great !!! kerja yang bagus !!” suara Suho sekarang terdengar seakan-akan ingin menelan Min Gi hidup-hidup.

Min Gi hanya sedikit menjauhkan handphone genggamnya dari telinganya saat dirinya mendapatkan amukan dari kakaknya. Ia melirik ayahnya dengan tatapan –ayah-telah-mengacaukan-semuanya-, dan yang dilirikpun hanya bisa mengangkat bahu, mengucapkan-I’m sorry- dan segera melenggang pergi.

“Huh, appa telah mengacaukan semuanya. mianhae oppa, hehe. Aku berhasil mendapatkan peringkat pertama. Dan sekarang kemana kita akan berlibur ???” Min Gi bertanya dengan antusias. Suho hanya bisa menyunggingkan senyuman saat tau hal yang sebenarnya. Ia sempat  terkejut saat adiknya mengatakan bahwa dia tidak berhasil mendapatkan peringkat satu itu. Memang kemampuan Min Gi sangat tidak perlu diragukan lagi. Sekarang, ia hanya berpikir, kemana ia akan membawa adiknya itu berlibur. Lalu terbesit bayangan sebuah tempat yang dulu dia pernah datangi.

“Min Gi-yaa, kau menginginkan suasana yang seperti apa ? pantai atau yang bagaimana ? kalau pantai, oppa sudah mendapatkan tempat yang indah, maldives. Tapi, kalau bukan pantai, oppa ingin mengajakmu ke Rainbow River, atau biasa yang diketahui dengan sungai lima warna.”

“Pantai ? andwe15 ! aku sudah bosan, kapan-kapan saja aku ke Maldives. Sekarang, aku ingin ke tempat yang unik itu oppa, Rainbow river, sepertinya aku pernah mendengar…” hening beberapa saat.

Lalu terdengar pekikan gadis itu. “Cano Crystales !! aku ingin kesana oppa, aku penasaran sekali dengan sungai itu, apakah benar seindah seperti yang para netizen itu katakan. Jangan-jangan mereka hanya melebih-lebihkan saja.” Ujar gadis itu. memang, dia pernah membaca artikel tentang Cano Crystales ini, saat ia searching di internet tempat wisata yang indah. Ia pun terkesima tentang fenomena kemisteriusan sungai unik itu, Min Gi ingin sekali pergi berkunjung ke tempat itu, tapi niat nya segera di kuburnya, karena mengingat tempat itu sangat nan jauh disana.

“Oh, baiklah, baiklah. Oppa sudah mengambil cuti beberapa hari, dan lusa, oppa akan segera menjemptmu di Jakarta. Persiapkanlah barang-barang yang akan kau bawa. Arraseo ?”

Arraseo, neomu khamsahamnida16 oppa, aku menyayangimu.” Gadis itu nyengir kuda saat kakaknya menertawakan dirinya diseberang sana.

“Tidak perlu kau katakan, oppa sudah tau kau sangat, sangat, sangat menyayangi oppa mu yang tampan ini. Haha.” Lelaki itu tertawa untuk yang kesekian kali. Min Gi tersenyum menanggapi. Sayang sekali ia tidak bisa melihat oppa nya sekarang yang sedang tertawa, percaya diri sekali sih memang, tapi apa yang dikatakan Suho sangatlah benar, -dia-memang-tampan-. Beruntung Min Gi memiliki saudara seperti Kim JungMyun.

Terdengar ketukan pintu diseberang telephone.

“Permisi dokter Shin. Pasien kamar 307 mengalami kritis lagi.” Ujar seseorang itu. terdengar juga suara Suho yang menanggapi dengan serius. “baiklah, saya akan segera kesana, siapkan semua yang diperlukan.” Suara kakaknya itu terdengar sedikit panic. Tak lama setelah itu ia segera berbicara pada Min Gi.

“Min Gi-yaa, oppa harus segera menangani pasien sekarang, keadaannya kritis, nanti oppa hubungi lagi.” Belum sempat Min Gi menanggapi ucapan kakaknya, sambungan telephone terputus. Kasihan pasien itu. semoga dia cepat sembuh. Doa nya dalam hati. Ia tersenyum bangga atas profesi yang dipilih kakaknya, sangat mulia.

∞*∞

Seorang gadis menyusuri bridge yang menghubungkan pesawat dengan terminal bandara Incheon, dan kini  ia sudah ada di depan conveyor, putaran tempat barang-barang yang disimpan di bagasi pesawat di keluarkan. Dan setelah mendapatkan travel bag-nya ia pun berjalan sambil menyeret koper besarnya itu  menyusuri koridor yang dipenuhi oleh banyak orang yang berlalu lalang. Gadis itu memakai sunglass, dan  menggunakan T-Shirt Putih di padukan dengan blazer hitam yang terpasang indah di tubuhnya yang ramping, dan mengenakan jeans hitam yang membaluti kaki jenjangnya.

Incheon Airport sangat ramai oleh para pengunjung, entah mereka yang hendak meninggalkan Seol, atau hanya sekedar datang untuk menjemput keluarga mereka yang telah tiba di bandara itu, seperti sekarang, gadis itu berjalan keluar dan segera mencari seseorang yang akan menjemputnya. Dibalik kerumunan banyaknya manusia, terlihatlah dipandangannya seseorang berdiri dengan memperlihatkan sebuah papan persegi yang bertuliskan namanya __Kim Min Gi__ ia pun segera menghampiri orang itu.

Annyeong17, Lee ajeossi18.” Min Gi menhampiri supir pribadi keluarganya itu dengan senyum yang mengembang indah. Ia sudah menganggap orang itu seperti pamannya sendiri. Mengingat Lee telah bekerja dengan keluarga mereka sejak dia masih kecil, atau bahkan belum lahir ke dunia. Lee tersenyum menyambut kedatangan nona yang sudah lama tak dilihatnya. Ia begitu terkejut saat melihat gadis kecil ingusan yang sering sekali membuat keonaran dulu kini sudah beranjak menjadi gadis yang dewasa dan cantik.

“Ah, annyeong agasshi19Agasshi sudah semakin besar dan cantik, saya sampai pangling.” Lee tertawa dan membukakan pintu untuk Min Gi.

“Ah, ajeossi bisa saja. Oh ya ajeossi, lain kali aku tidak ingin ajeossi membukakan pintu untukku. Aku sudah menganggap ahjussi seperti pamanku sendiri. Jadi, jangan bersikap seformal itu ya ajeossi ?” gadis itu cemberut dan menggembungkan pipinya, sementara Lee hanya bisa tertawa  melihat tingkah laku gadis manis itu.

“Nde, agasshi. Arraseo.”  Lee  segera mengambil koper dari tangan Min Gi dan membawanya ke bagasi.

Saat Min Gi hendak masuk kedalam mobil, tanpa sengaja matanya menangkap sosok lelaki yang telah beberapa minggu lalu dilihatnya melintasi jalan menghampiri mobil jazz hitamnya dan segera masuk kedalam, lelaki itu mengenakan celana jeans biru dan menggunakan jacket dengan warna yang senada, ia menutup matanya dengan sunglass dan menutup kepalanya dengan hoodie, dan walaupun ia sudah berpakaian tertutup seperti itu disaat musim panas yang sedang melanda kota Seol ini, Min Gi tetap saja bisa mengenalinya. Tidak tau kenapa, sejak hari itu ia selalu mengingat lelaki dengan __freeze gaze__itu.

Lelaki itu ternyata orang Korea, memang ras tidak bisa dihilangkan dari wajah. Gumamnya pelan, setelah kepergian lelaki berhoodie itu, ia pun segera meninggalkan bandara Incheon.

♪♪*♪♪

~To Be Continue~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s