I Hope it’s You [Chapter-2]

Author  : Wie_SuSHInXo

Tittle     : I Hope it’s You

Genre    : Romance, Family, Friendship (Kisah tentang perpaduan dua Negara : Indonesia-Korea)

Rating   : PG-15

Length  : ?

Cast       :

  • Kim Min Gi / Giya (OCs)
  • Choi MinHo (SHINee)
  • Choi Ki Ho a.k.a Kay (Anggap ini kembarannya MinHo)
  • Jessica Jung (SNSD)

Other cast : Temukan sendiri ! sewaktu-waktu bisa berubah…J

Attention : Cerita ini hanya fiktif belaka, murni hasil pikiran saya sendiri, bergadang setiap hari    hanya untuk menemukan ide ceritaaa #Streeesssss !!! 😛 = Apabila ada kemiripan nama, cerita atau sebagainya, saya minta maaf, karena ini kata-kata hapalan dari otak saya yang kebetulan tiba-tiba keluar saat membuat cerita ini…Semoga readers sukaa.. khamsa…:D

♪♪*♪♪

Karenamu aku selalu terpaku, menatap indah wajahmu, dan menantikan senyuman manismu yang akan kau persembahkan untukku.

♪♪*♪♪

 

Selama perjalanan pulang, mobil serasa ramai akan penumpang, mereka terus bercerita, Lee meminta Min-Gi untuk menceritakan pengalaman hidupnya selama di Indonesia,  ia semakin haru biru saat Min-Gi menceritakan keunikan dan keagungan Tuhan saat menciptakan benua hijau itu.

“Indonesia sangat mengagumkan ajeossi, sangat hijau, tentram, dan Indonesia memiliki berbagai macam suku bangsa, ras, dan berbagai macam bahasa. Negara yang memiliki banyak keindahan didalamnya. Aku bangga sebagian dari diriku adalah berkebangsaan Indonesia. Wah, sangat susah dijelaskan dengan kata-kata ajeossi, nanti saja, aku akan bawa ajeossi kesana untuk menyaksikan benua itu sendiri. Seberapa istimewanya Indonesia.” Min-Gi bercerita panjang lebar, dan Lee hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi.  Ia juga bertanya kenapa Indra sajangnim20__ayah Min Gi__ tidak ikut serta mengantar putrinya ke Seoul, Min-Gi menjelaskan bahwa ayahnya masih harus bertugas disana sampai waktu yang belum ditentukan, kemungkinan besar ibunya juga akan berangkat ke Indonesia untuk menemani ayahnya, karena Min-Gi akan melanjutkan kuliahnya di Seoul. Min-Gi juga tak akan keberatan, karena ayah dan ibunya sudah lama tak bertemu, biarlah mereka melepas rindu kalau saat nanti ibunya memutuskan untuk ke Indonesia, tidak masalah buatnya.

 

Sesampainya dirumah, Min-Gi melepas rindu dengan ibunya, lagi-lagi ia bercerita banyak, dan itu membuatnya sangat lelah, predikat cerewet tidak akan mungkin lepas dari dirinya kalau dia terus seperti itu.

“Min-Gi yaa, besok hari pertama mu masuk kuliah, kenapa baru datang sekarang sayang, kau pasti lelah, seharusnya datang dari beberapa hari yang lalu, jadi bisa lebih santai, dan sedikit menikmati keindahan kota Seoul.”

Gwenchana21 eomma, aku tidak terlalu lelah, tenang saja.” Min-Gi tersenyum sebelum melanjutkan, “aku memang sengaja datang sekarang, aku masih ingin bermain dengan teman-temanku sebelum aku kesini eomma, aku juga masih sangat lama disini, jadi bisa menikmati Seoul di lain hari.” Berkali-kali gadis ini menguap, matanya mulai memerah dan berair, sungguh ! sendi-sendi engsel yang menyambung setiap tulang ditubuhku serasa akan lepas semua ! gadis itu mendengus. Ia benar-benar lelah dan ingin cepat tidur.

“Oke, sekarang istirahatlah, besok eomma akan membangunkanmu pagi-pagi, kau pasti belum terbiasa dengan perbedaan waktu disini. Good Night chagi.” Shin Hyo-Jin tersenyum pada anak gadisnya itu dan mencium puncak kepalanya, Min-Gi hanya mengangguk tersenyum.

“Good night eomma.”

∞*∞

Gadis yang diketahui bernama Shin Min-Gi itu tercengang saat melihat jalanan yang terbentang luas dihadapannya. Di samping kiri dan kanan jalanan itu terdapat beberapa jenis tanaman, dan dihiasi dengan patung symbol besar  berlambang universitasnya, di tengah-tengah patung tersebut mengalir deras air yang dibawahnya telah tersedia semacam kolam kecil yang berwarna putih.

Ini baru gerbangnya, luas banget ! bagaimana nanti dalamnya, sungguh tidak bisa membayangkan ! batin Min-Gi. Gadis itu mengangguk-angguk mengagumi tekstur jalanan plus gerbang besar nan indah yang terbentang dibelakangnya. Bukan hanya itu saja, tempat ini begitu bersih, tak ada sedikitpun terlihat kotoran walau hanya secuil. Ia melihat lagi ke arah depan, sekitar dua ratus meter di depannya, ada tiga bangunan yang sangat sangat sangat besar ! Ia begitu takjub ketika melihat dari arahnya tiga bangunan kaca terpisah yang terletak di utara, selatan dan baratnya, bangunan itu lebih terlihat kembar kalau saja tidak dibedakan dengan tingkatan dan ketinggiannya. Universitasnya ini bernuansakan warna putih dan biru, serta kaca-kaca pelangi yang terletak hampir memenuhi seluruh bangunan itu. Kelas Min-Gi sendiri terletak di bangunan utara, tepat di hadapannya, di lantai 7. Dan untuk mencapai kelasnya, ia harus menaiki lift. Andaikan saja tak ada lift, ia yakin kakinya akan terasa lepas kalau harus menaiki tangga darurat.

Pagi ini belum aktif belajar, one day full mereka dibiarkan berkeliling mencoba beradaptasi dengan keadaan universitas dan fakultas mmasing-masing. Min-Gi berjalan menyusuri koridor, kantin dan perpustakaan gedung 2, yaitu tempat kelas nya bernaung sekarang. Karena penasaran, Min-Gi pun berjalan menuju gedung 1 dan 3, sungguh dia benar-benar takjub, bangga sekali dia bisa masuk di universitas ini, sedikit mirip dengan universitas  terbesar di Indonesia.

Setelah merasa cukup dengan eksplorasinya terhadap universitasnya, ia pun membalikkan langkah menuju kelas yang akan menjadi teman partnernya selama satu tahun ke depan.

Sudah ada beberapa orang dikelas, walau tak banyak, tapi suasana sedikit riuh, ada yang asyik berkenalan dengan teman-teman baru dan ada juga yang hanya duduk diam dan membaca buku.

Dan tanpa sengaja lagi matanya menangkap sosok orang yang kemarin dilihatnya di Incheon Airport, lelaki itu duduk dengan tenang di sudut ruangan kelas dan menatap buku yang berada di tangannya, sesekali ia melihat keluar jendela, ia mengenakan kemeja putih bersih dan rapi, serta earphone putih yang terpasang dikedua telinganya. Tanpa berpikir panjang, gadis yang sedang menatap lelaki itu segera menghampirinya.

“Anyeonghaseyo,” Lelaki itu mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang serius ditekuninya dan mendongak menatap heran kepada seorang gadis yang __tak dikenal__ sedang berdiri, menyapa, dan tersenyum manis ke arahnnya. Lelaki itu melihat ke belakang, kalau-kalau saja bukan ia yang disapa gadis ini, karena tak mungkin ia melihat ke kanannya, sebab jendela lah yang berada tepat disebelah kanannya. Dengan sedikit ragu ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, seakan menyatakan –apa-yang-kau-maksud-itu-aku- dan menatap penuh tanda tanya ke arah gadis itu.

“Ya, memang kau yang aku maksud. Apa kau tidak ingat padaku ? aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saat kau menolongku waktu itu, aku lupa mengucapkannya karna kau saat itu langsung pergi.” Min-Gi menatap skeptic ke arah lelaki itu. Bisa malu dia kalau lelaki tersebut tak mengingatnya. Yang ditatap hanya melongo dan melepaskan earphone yang sedari tadi terpasang ditelinganya,  tak mengerti dengan ucapan Min-Gi. Ia baru bertemu gadis ini sekali dan hari ini, tak pernah ada pertemuan sebelumnya, bagaimana bisa dia mengatakan aku telah menolongnya ? dasar gadis aneh. Pikirnya dalam hati sambil menatap dengan penuh tanda tanya ke arah Min-Gi.

“Terima kasih ? untuk apa ? aku menolongmu ? kapan ya ? aku tak mengingatnya, sungguh! Aku yakin ini hari pertama aku bertemu denganmu.” Jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu bagaikan petir yang siap menyambar Min-Gi seketika. Lelaki ini sangat menyebalkan ! sombong sekali dia ! Tidak mungkin aku salah orang, wajah ini yang menatapku saat aku benar-benar akan terjatuh saat itu, bagaimana mungkin aku melupakannya, atau… dia yang amnesia ? umpat Min-Gi, ia hanya mampu menyuarakan pikirannya didalam hati, belum berani untuk mengucapkan telak didepan wajah lelaki ini.

“Kau yang waktu itu pergi ke kolumbia kan ? ke Cano ? Cano crystal biar lebih jelas. Aku tak mungkin salah orang.” Min-Gi masih ngotot mempertahankan keyakinannya, lebih baik diselesaikan sekarang, daripada nanti malah tambah bikin malu. Lelaki itu lagi-lagi melongo, kontras sekali dengan pandangan pertama beberapa menit yang lalu saat Min-Gi melihat lelaki itu benar-benar memperlihatkan ke-cool-an dirinya.

“Kolumbia ? Cano ? aku tidak pernah kesana.”

“Bukan hanya itu, aku juga melihatmu kemarin tiba di Incheon Aiport, sebenarnya juga kemarin aku ingin langsung  menyapamu, tapi sepertinya kau terburu-buru.” Min-Gi masih tak pantang menyerah untuk meyakinkan lelaki itu, karena dia yakin dia memang benar.

“Bandara ? aih, apa-apaan sih ini, kau membuatku bingung! Aku tak pernah ke kolumbia, apalagi Cano ? dimana itu ? jakkaman22, kapan kau melihat -orang-yang-mirip-aku- itu di Cano  ?” tanya lelaki itu dengan raut wajah penasaran, tapi lebih mendominasi raut wajah kebingungan disana. Min-Gi tampak berpikir sejenak, karena lelah berdiri, ia pun mengambil kursi dan dengan percaya dirinya duduk dihadapan lelaki itu.

“Hmm… kira-kira sekitar dua minggu yang lalu, dan kemarin aku yakin sekali melihatmu dibandara Incheon.” Kini lelaki muda dihadapannya itu hanya bisa berpikir frustasi, sebenarnya bisa saja dia tidak meladeni gadis ini, tapi dia masih punya hati dan tidak tega untuk melakukan itu.

Mwo23 ? beberapa minggu terakhir ini aku berada di jeju, dan beberapa hari yang lalu aku baru pulang dari sana, apa kau yakin tidak salah orang ? apa kau lupa kalau bangsa korea memiliki wajah yang hampir serupa ?” setelah mendengar ucapan lelaki itu, pikiran Min-Gi sedikit terbuka, memang benar kalimat terakhir yang dia ucapkan, warga korea memang hampir semuanya memiliki tampang yang serupa tapi tak sama. Dan lelaki ini sangat mirip dengan lelaki yang dia maksudkan dan dipertahankan sedari tadi.

Tapi untuk apa memperdebatkannya lagi kalau lelaki yang satu ini memang benar-benar amnesia. Yang ada dia akan semakin mempermalukan dirinya sendiri.

“Hah, yasudahlah, aku rasa aku memang benar-benar salah orang, joesonghamnida24.” Min-Gi lalu berdiri dari kursinya dan membungkuk 90 derajat, meminta maaf yang sebesar-besarnya bahwa ia sangat menyesal sudah ngotot dan mengganggu waktu lelaki itu. Kalau di Indonesia, ia tidak perlu meminta maaf seperti ini, sampai membungkuk segala, tapi di korea lain lagi ceritanya, sudah menjadi tradisi bangsa ini untuk selalu membungkuk , entah itu hanya setengah membungkuk atau terlalu membungkuk seperti dia sekarang ini. Itu semua dilakukan untuk mengapresiasikan ketika bertema kasih, meminta maaf, mengucapkan selamat tinggal, atau sebagainya.

“Hei, tidak perlu seperti itulah. Aku juga sering salah mengenali orang, jadi itu sudah biasa terjadi. By the way, kau dikelas ini juga atau hanya sekedar mampir karena melihatku yang notabene nya adalah –hanya- seseorang- yang mirip- dengan- kenalanmu itu ?” Ia tertawa jahil saat mengucapkan kalimat itu, tampan sekali, batin Min-Gi berbicara. Ia menggeleng pelan dan berusaha fokus lagi pada keadaan.

“Percaya diri sekali ? kalimat pertama mu memang benar, karena aku memang belajar dikelas ini, dan untuk kalimatmu yang kedua, ada benar dan ada salahnya juga. Dan aku yakin kau pasti tau maksudku ?” Min-Gi duduk lagi dan melirik ke arah lelaki itu, yang dilirik hanya tersenyum mengangguk. Lalu dengan gerakan yang cepat, lelaki itu mengulurkan tangannya ke depan wajah Min-Gi, ia tersenyum kecil dan berucap, “Karena kita sekelas, dan karena sedari tadi kita terus mengoceh tanpa tau nama masing-masing pihak, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahlu,” ia tersenyum dan menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, “Joneun Choi Ki Ho imnida25, tapi kau bisa memanggilku, Kay.”

Lalu dengan senyum yang juga mengembang di wajah Min-Gi, ia pun segera menyambut uluran tangan tersebut dan melakukan hal yang serupa seperti yang dikatakan lelaki yang bernama Park Jong-Myun itu.

Joneun Shin Min-Gi imnida, terserah kau ingin memanggilku apa, mana bagusnya saja, yang penting nyaman untuk didengar, tapi kalau di Indonesia aku di panggil Giya.” Gadis itu melepas kontak antara telapak tangan mereka dan melihat ke arah luar jendela, yang menampikkan jalan raya kota Seoul yang ramai dan indah, siang saja sudah begini indah, apalagi kalau malam hari, dan dilihat dari jarak yang cukup tinggi seperti ini, pasti sangat menakjubkan.

“Indonesia ? Kau orang Indonesia ?” lelaki itu menatap Min-Gi dengan sedikit tertegun, ia memperhatikan seluk-beluk wajah Min-Gi. Dan baru ia sadari bahwa wajah gadis ini terkesan unik, sangat terlihat jelas wajah Indonesia nya hanya dengan melihat matanya yang besar, dan bulu matanya yang lentik, dan ini Kay yakin asli, tanpa operasi plastic yang biasa sebagian wanita korea lakukan, dan tidak menutup kemungkinan juga kalau gadis ini adalah orang korea, terlihat juga dari kulitnya yang putih bersih dan hidungnya yang mancung. Pantas saja cantik. Gumam Kay dalam hati. Min-Gi yang merasa sedari tadi diperhatikan segera menjawab pertanyaan Kay, agar lelaki itu tak lagi menatapnya seperti itu.

“Ya, ayahku berasal dari Indonesia, dan ibuku warga asli Korea. Kalau kau bagaimana ? dari wajahmu sih, aku sudah bisa menebak, kalau kau memang korea murni. Benarkan ?” kini gantian Min-Gi yang menatap lekat-lekat wajah Kay yang mulai memerah malu.

“Sebegitu nya kah ? yah, memang tidak bisa dipungkiri, aku memang korea murni.” Kay tersenyum kikuk. Mereka pun larut dalam berbagai macam perbincangan, bersyukur hari ini memang tidak diadakan proses belajar-mengajar, jadi mereka bisa bebas bercerita di sudut ruangan, dan sejak saat itu Min-Gi lah penempat tetap kursi didepan Kay itu, yang sedari tadi sudah menjadi tempat duduknya.

∞*∞

Lelaki bernama Choi Ki Ho atau yang biasa dipanggil Kay itu sedang duduk dibalkon kamarnya yang berada di tingkat pertama rumahnya, balkon menjadi tempat terfavoritnya saat pertama kali pindah kerumah itu. Pemandangan kota Seoul saat senja sangat memukau. Dia selalu menghabiskan berjam-jam dibalkon sambil menyesap vanilla coffee yang selalu menemaninya, terkadang ia lebih memilih mengerjakan segala sesuatunya dibalkon itu, seperti halnya sekarang, dengan ditemani secangkir coffee hangat dan satu buku tebal yang sedang berada ditangannya, ia menikmati pemandangan sunset yang mulai terbenam, meninggalkan tempatnya semula dan siap untuk berganti tugas dengan bulan dan bintang. Tiba-tiba dia teringat dengan gadis yang telah resmi menjadi temannya beberapa jam yang lalu, ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak saat ini ketika mengingat hal konyol yang gadis itu lakukan. Gadis yang unik. Aku akui dia pintar, tapi tingkah lakunya sangat sederhana dan biasa-biasa saja, sangat cerewet dan juga lucu. Ia kembali tersenyum saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

“Hei, ini untukmu.” Kay tertegun saat sebuah benda yang disodorkan kedepan wajahnya, dia mengambil dan memperhatikan benda itu, kotak kaca persegi, yang didalamnya terdapat aksen sungai miniature yang indah, sungai itu berwarna warni, terdapat bebatuan ditengah-tengah sungai itu, dan disekelilingnya di penuhi dengan pohon-pohon, keren sekali ! miniature ini seakan nyata, dan airnya, aku yakin ini gelly, dan ini, apakah ini gagang ? sangat indah ! tutur Kay dalam hati sambil memperhatikan setiap detil miniature itu, ia sangat terkesima melihatnya, begitu nyata.

“Beli dimana ? keren sekali !” Kay bertanya tanpa menoleh sedikitpun kepada lelaki yang sedang berdiri disampingnya, kedua tangannya diletakkan pada pagar pembatas balkon, ia melirik sekilas ke arah Kay yang masih ingin terus memperhatikan keindahan miniature sungai tersebut.

“Di Kolumbia, kemarin aku menggelar konser disana.” Jawab lelaki itu singkat, ia menghirup udara dengan tenang, tanpa harus terusik dengan hingar bingar teriakan para fansnya yang selalu berada disekelilingnya, dia memang bangga dan senang, tapi terkadang itu membuatnya muak, ia hanya butuh istirahat sekarang, dan yang perlu dia yakini saat ini adalah, Kay memang tidak salah memilih tempat untuk istirahat, karena balkon ini memang cukup mengesankan.

“Kau ternyata konser disana ? kenapa tidak bilang ? padahal aku ingin menitip sesuatu.” Sekarang barulah Kay berpaling dari miniature tersebut dan menatap lelaki yang sedari tadi disampingnya itu.

“Maaf aku tidak sempat bilang secara langsung, aku sibuk latihan untuk mempersiapkan konser itu, tapi aku sudah sampaikan ke nuna26, lagi pula kau juga berada di jeju kan ?”

Nuna memang memberitahuku kalau kau akan menggelar konser diluar negeri, tapi dia tidak bilang kalau ternyata luar negeri itu di kolumbia, aihh, nunaaa !” Kay terlihat sedikit frustasi, dan lelaki jangkung disampingnya itu menatapnya dengan tatapan malas.

“Dan kau tidak bertanya ?” Lelaki itu menatap Kay, dan yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan. “Salah sendiri.” ujar lelaki itu. Bicaranya sedikit sekali. Datar. Bisa-bisa nya orang seperti dia menjadi artis, dan terkenal pula. Kay hanya mendengus memperhatikan saudaranya itu.

“Memangnya kau ingin menitip apa ?”

“Tidak jadi. Sekarang, aku sudah tidak berminat. Oh ya, ini sungai atau kolam ? kalau dilihat-lihat ini seperti kolam, memangnya ada sungai seperti ini ? daebak27 !” Kay kembali difokuskan oleh benda tersebut, memandangnya berulang-ulang, memperhatikannya berkali-kali, berusaha mempelajari bagaimana cara membuatnya.

“Memang ada sungai seperti itu, contahnya ya itu, miniature sungai Cano.” Kini pandangan Kay beralih kepada lelaki yang berdiri tegap itu. Ia seakan menyadari sesuatu ketika lelaki itu menyebutkan nama yang sudah tidak asing lagi ditelinganya.

“Cano ? kau pergi kesana ? kapan ? bukankah kau ke kolumbia ?”

“Aku memang ke Kolumbia, Cano Crystales  kan memang berada disana, sehabis konser aku langsung diajak Dong-Woo hyung28 ke tempat itu, sangat indah.” Kay yang mendengarkan cerita lelaki itu mengangguk mengerti, kenapa dia baru sadar sekarang kalau dia mempunyai saudara kembar, ternyata gadis itu memang benar, secara langsung dia memang salah orang karena aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi secara tidak langsung, dia memang benar saat mengatakan pernah bertemu dengan orang yang memiliki wajah yang serupa denganku. Dia tidak bertemu denganku, tapi dengan saudara kembarku. Aihhh! Kenapa aku bisa melupakannya ! gumam Kay pelan pada dirinya sendiri, mencoba menganalisis tentang kejadiannya bersama gadis itu beberapa waktu yang lalu dan hal yang baru dikatakan saudaranya ini.

“Gadis ? siapa ?” tanya lelaki itu dengan alis yang sedikit terangkat, walaupun gumaman Kay tadi sangat pelan, tapi ia yang jaraknya sangat dekat dengan Kay ini tetap bisa mendengarkan suara yang sekecil apa pun  keluar dari mulut lelaki yang sedang duduk itu. Tapi yang pasti, dia tidak mendengarkan secara detil apa yang Kay ucapkan barusan.

“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa.” Kay tersenyum kikuk.

“Yasudah, aku ingin istirahat.” lelaki jangkung itu pun berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Kay yang masih duduk di kediamannya, matahari memang sudah tenggelam sejak beberapa menit yang lalu, sebelum sempat lelaki itu keluar dari pintu kamar Kay, Kay berbalik dan menghentikan langkahnya.

“Min-Ho yaagomawo.” Kay berkata sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang miniature sungai Cano itu, Min-Ho yang melihat segera mengangguk dan mengacungkan jempol kanannya sebelum berbalik melangkah keluar dan menutup pintu. Setelah Min-Ho lepas dari pandangan, Kay kembali bergumam.

“Ternyata orang yang dimaksud gadis itu, kau Choi Min-Ho.”

♪♪*♪♪

~To Be Continue~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s